RADARTUBAN — Peluit akhir tak sekadar menandai selesainya pertandingan. Itu menjadi penanda malam kelam bagi Sriwijaya FC dalam laga lanjutan Pegadaian Championship Liga 2.
Di hadapan Adhyaksa FC, Laskar Wong Kito bukan hanya kalah—mereka runtuh.
Skor telak 15-0 menjadi bukti betapa timpangnya laga yang berlangsung tanpa ampun sejak menit pertama.
Sriwijaya FC Kehilangan Bentuk Sejak Menit Awal
Baru satu menit berjalan, Makan Konate sudah membuka luka. Gol cepat itu bukan peringatan, melainkan awal dari badai.
Enam menit kemudian, Konate kembali mencatatkan namanya di papan skor. Sriwijaya FC goyah, dan Adhyaksa FC semakin bersemangat.
Tekanan datang bergelombang. Ramiro Fergonzi menambah derita di menit ke-15, disusul Adilson Silva yang tampil brutal dengan rentetan gol di menit 24, 32, 36, dan 44.
Babak pertama ditutup dengan skor mencengangkan, mencerminkan satu tim yang menyerang dengan keyakinan penuh, dan tim lain yang kehilangan arah, organisasi, bahkan kepercayaan diri.
Konate–Adilson–Fergonzi: Trio Teror Tanpa Ampunan
Memasuki babak kedua, situasi tak berubah. Adilson Silva melanjutkan terornya di menit 47 dan 64, menegaskan dominasi mutlak lini depan Adhyaksa FC.
Konate melengkapi hattrick di menit ke-73, sementara Fergonzi kembali menghukum pertahanan Sriwijaya FC di menit 66 dan masa injury time 90+4.
Penderitaan Sriwijaya FC makin lengkap ketika Miftahul Hamdi ikut berpesta lewat tiga gol beruntun di menit 71, 75, dan 82.
Total 15 gol bersarang tanpa satu pun balasan. Tak ada drama, tak ada perlawanan berarti—hanya satu arah.
Kemenangan ini menegaskan kesiapan Adhyaksa FC sebagai tim dengan intensitas tinggi, efektivitas tajam, dan mental menyerang tanpa kompromi.
Skor Besar, Alarm Keras untuk Sriwijaya FC
Sebaliknya, kekalahan ini menjadi alarm keras bagi Sriwijaya FC. Bukan soal kalah besar semata, tapi soal rapuhnya struktur permainan, lemahnya transisi bertahan, dan absennya respons saat tekanan datang bertubi-tubi.
Skor 15-0 bukan hasil kebetulan. Ini adalah cermin perbedaan kualitas, kesiapan, dan keberanian mengambil inisiatif.
Untuk Sriwijaya FC, ini malam yang harus diingat—bukan untuk disesali, tapi untuk dibenahi sebelum luka serupa kembali terbuka.
Kekalahan tersebut membuat Sriwijaya semakin terbenam di dasar klasemen kompetisi kasta kedua di tanah air tersebut. Sekaligus mendekatkan tim yang pernah menjuarai Liga Indonesia itu terlempar ke Liga 3. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni