RADARTUBAN - Leon Goretzka kritik Donald Trump kembali mencuat di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap situasi geopolitik Amerika Serikat menjelang Piala Dunia 2026.
Turnamen sepak bola terbesar di dunia itu akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada dalam beberapa bulan ke depan.
Namun, status Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 kini menuai sorotan tajam dari publik internasional.
Isu politik global dinilai berpotensi memengaruhi citra dan jalannya kompetisi.
Pernyataan Trump Picu Reaksi Dunia Internasional
Kontroversi bermula setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan mengenai keinginannya untuk mengakuisisi Greenland.
Wilayah tersebut diketahui berada di bawah kedaulatan Denmark.
Pernyataan itu muncul tidak lama setelah Trump menerima penghargaan FIFA Peace Prize.
Reaksi keras pun bermunculan dari berbagai negara dan penggemar sepak bola dunia.
Sejumlah pihak bahkan mendesak FIFA untuk mencabut status Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026.
Situasi ini membuat isu politik sepak bola semakin menguat di level internasional.
Tekanan Internal dan Wacana Boikot dari Jerman
Jerman menjadi salah satu negara yang terseret dalam perdebatan tersebut.
Wacana Jerman boikot Piala Dunia mulai dibicarakan setelah sejumlah tokoh sepak bola nasional menyampaikan keprihatinan.
Wakil Presiden DFB, Oke Göttlich, menyebut perlunya mempertimbangkan sikap tegas terhadap dinamika politik global.
Isu tersebut memicu diskusi luas di internal sepak bola Jerman.
Leon Goretzka Soroti Dampak Politik Terhadap Sepak Bola
Leon Goretzka yang membela Bayern Munchen turut angkat suara terkait situasi ini.
Gelandang timnas Jerman itu mengakui bahwa perdebatan politik tidak bisa dihindari menjelang Piala Dunia 2026.
“Tentu saja, saya menyadari adanya perdebatan politik,” kata Goretzka dalam wawancara dengan Die Zeit.
“Saya tetap yakin ini akan menjadi turnamen yang hebat—akan memajukan sepak bola di sana dan menunjukkan bahwa banyak orang menginginkan permainan yang sangat menarik,” lanjutnya.
Menurut Goretzka, pernyataan Trump justru mempertegas identitas kolektif Eropa.
“Donald Trump membuat kami merasa bukan hanya sebagai orang Jerman, tetapi juga sebagai orang Eropa,” ujar Goretzka.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana politik sepak bola memengaruhi sudut pandang para pemain.
Respons Trump dan Keyakinan Dominasi Eropa
Sebelumnya, Trump juga melontarkan kritik terhadap kebijakan imigrasi Eropa.
Ia mengklaim bahwa kebijakan tersebut akan membuat banyak negara Eropa “tidak lagi layak disebut sebagai negara.”
Meski demikian, Goretzka menegaskan bahwa kekuatan sepak bola Eropa tetap dominan.
“Dalam pertandingan terpenting di dunia, kami masih berada di atas semua benua lainnya,” kata Goretzka.
“Jauh dari kata tertinggal, Eropa akan menunjukkan kepada semua orang kualitasnya di atas lapangan,” tambahnya.
Pernyataan ini kembali menegaskan posisi Eropa dalam peta politik sepak bola global.
Sikap Resmi Federasi Sepak Bola Jerman
Di tengah meningkatnya wacana Jerman boikot Piala Dunia, Federasi Sepak Bola Jerman memberikan klarifikasi.
Presiden DFB, Bernd Neuendorf, menilai perdebatan boikot masih terlalu dini.
“Saya tidak menganggap ini sebagai perdebatan besar, karena saya yakin kami di DFB memiliki pandangan yang sangat bulat bahwa perdebatan ini sepenuhnya keliru pada saat ini,” ujar Neuendorf.
Presiden DFL, Hans-Joachim Watzke, juga menyampaikan pandangan serupa.
“Ketika waktunya tepat, kami akan membahasnya, tetapi menurut saya saat ini hal tersebut sama sekali belum relevan,” kata Watzke.
Pernyataan ini menegaskan bahwa Jerman boikot Piala Dunia belum menjadi kebijakan resmi.
Piala Dunia 2026 di Tengah Ketegangan Global
Hingga kini, FIFA belum memberikan pernyataan resmi terkait tekanan terhadap Amerika Serikat.
Piala Dunia 2026 tetap dijadwalkan berlangsung sesuai rencana.
Bagi pemain seperti Goretzka, fokus utama tetap berada pada performa di lapangan.
Meski demikian, Leon Goretzka kritik Donald Trump menunjukkan bahwa sepak bola modern tidak bisa dilepaskan dari isu geopolitik global. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni