RADARTUBAN - Getaran perpisahan mulai terasa di Stade Vélodrome. Olympique Marseille dan Roberto De Zerbi disebut berada di ambang jalan berpisah.
Informasi ini dilaporkan oleh @RMCsport, menyebut bahwa diskusi serius telah berlangsung antara jajaran direksi klub dan sang pelatih asal Italia.
Situasinya bukan lagi soal hasil di papan klasemen semata. Ini soal kelelahan emosional, soal beban yang menumpuk, dan proyek yang tak berjalan sesuai harapan awal.
De Zerbi Terpukul, Energi Habis di Tengah Jalan
Menurut laporan yang sama, Roberto De Zerbi berada dalam kondisi sangat terpukul oleh situasi internal yang terjadi saat ini.
Pelatih yang dikenal idealis, keras pada prinsip, dan menuntut sepak bola progresif itu tidak lagi memiliki energi untuk melanjutkan misinya bersama Marseille.
Ini bukan kalimat ringan. Dalam dunia kepelatihan level elite, kehabisan energi berarti kehabisan keyakinan. Dan ketika keyakinan retak, ruang ganti biasanya ikut goyah.
Baca Juga: Dani Ceballos Selangkah Lagi Gabung Olympique Marseille dari Real Madrid
Diskusi Sudah Terjadi, Tinggal Satu Nama Penentu
Semua elemen kunci telah duduk bersama: manajemen dan De Zerbi.
Arah pembicaraan pun mengerucut ke satu kesimpulan—perpisahan hampir tak terelakkan.
Satu-satunya hal yang masih menahan keputusan final hanyalah persetujuan Frank McCourt, pemilik klub Marseille.
Jika restu itu turun, maka proyek De Zerbi akan resmi berhenti, bahkan sebelum mencapai bentuk idealnya.
Marseille di Persimpangan Arah
Kepergian De Zerbi, jika benar terjadi, akan menjadi pukulan besar bagi Marseille. Ia didatangkan bukan sekadar sebagai pelatih, melainkan sebagai arsitek perubahan.
Filosofi permainan, pembangunan tim, hingga identitas baru klub diproyeksikan berada di tangannya.
Namun realitas sepak bola Prancis—tekanan publik, dinamika internal, dan ekspektasi instan—kerap tak ramah pada proyek jangka menengah.
Marseille kembali berada di persimpangan:
bertahan dengan idealisme yang rapuh, atau mengulang siklus lama dengan solusi instan.
Tinggal Menunggu Waktu
Semua tanda mengarah pada satu kesimpulan yang sama. Jika tak ada kejutan besar dari meja Frank McCourt, maka perpisahan ini hanya soal waktu.
Roberto De Zerbi mungkin akan pergi dengan luka, Marseille dengan tanda tanya.
Yang pasti, kisah ini bukan tentang kegagalan semata—melainkan tentang ambisi besar yang kelelahan sebelum sempat bernapas panjang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni