RADARTUBAN - Kasus dugaan rasisme Vinicius Junior dalam laga Liga Champions kembali mengguncang dunia sepak bola Eropa.
Insiden itu terjadi saat Real Madrid menghadapi SL Benfica pada leg pertama babak play-off Liga Champions di Stadion Da Luz.
Vinicius Junior menjadi sorotan bukan hanya karena golnya, tetapi juga karena laporan dugaan tindakan diskriminatif dari pemain Benfica, Gianluca Prestianni.
Real Madrid menang 1-0 dalam pertandingan tersebut.
Gol tunggal dicetak Vinicius pada menit ke-50. Namun sebelum pertandingan dimulai, situasi memanas di lapangan.
Vinicius melaporkan kepada wasit Francois Letexier adanya ucapan yang diduga bernuansa rasial.
Wasit asal Prancis itu langsung mengaktifkan protokol anti-rasisme dengan membuat gestur tangan menyilang.
Langkah tersebut menjadi bagian dari prosedur resmi UEFA ketika terjadi dugaan tindakan diskriminasi.
Kronologi Insiden di Stadion Da Luz
Berdasarkan laporan pertandingan, momen itu terjadi saat para pemain bersiap melakukan kick-off.
Prestianni disebut mendekati Vinicius dan terlihat menutupi bagian kausnya dengan mulut ketika berbicara.
Vinicius merasa ada ucapan yang tidak pantas. Ia kemudian menyampaikan protes langsung kepada wasit.
Tindakan cepat dilakukan untuk memastikan situasi tetap terkendali.
Dalam unggahan media sosial usai laga, Vinicius menegaskan sikapnya terhadap segala bentuk diskriminasi.
“Para rasis adalah pengecut,” tulisnya.
“Mereka perlu menutupi kaus mereka dengan mulut untuk menunjukkan betapa lemahnya mereka.”
Pernyataan itu menjadi sorotan luas karena kembali menempatkan isu diskriminasi di panggung utama sepak bola Eropa.
Di sisi lain, Prestianni membantah tuduhan tersebut.
Ia menyatakan tidak melakukan tindakan rasial seperti yang dituduhkan.
Baca Juga: Liga Pro Saudi Bidik Mohamed Salah dan Vinicius Jr untuk Tantang Dominasi Eropa
UEFA Buka Investigasi Dugaan Rasisme Vinicius Junior
UEFA memastikan telah membuka investigasi resmi terkait dugaan rasisme Vinicius Junior.
Proses penyelidikan dilakukan untuk memastikan fakta dan bukti yang ada.
Media The Athletic melaporkan bahwa Prestianni kemungkinan tetap bisa tampil pada leg kedua yang dijadwalkan 25 Maret.
Keputusan itu berkaitan dengan waktu yang dibutuhkan dalam proses investigasi.
UEFA belum memberikan kesimpulan akhir.
Semua pihak diminta menunggu hasil pemeriksaan secara resmi.
Langkah ini menunjukkan komitmen UEFA dalam menangani dugaan rasisme di Liga Champions secara prosedural dan terukur.
Pernyataan Resmi FIFA dan Gianni Infantino
Presiden FIFA, Gianni Infantino, turut angkat bicara mengenai dugaan rasisme Vinicius Junior.
Ia mengaku terkejut dan prihatin atas laporan yang diterimanya.
“Saya terkejut dan sedih melihat insiden dugaan rasisme terhadap Vinicius Junior dalam pertandingan Liga Champions UEFA antara SL Benfica dan Real Madrid CF,” ujar Infantino.
“Tidak ada ruang sama sekali bagi rasisme dalam olahraga kita maupun dalam masyarakat — kita membutuhkan semua pemangku kepentingan terkait untuk mengambil tindakan dan meminta pertanggungjawaban pihak yang bertanggung jawab.
Di FIFA, melalui Global Stand Against Racism dan Players’ Voice Panel, kami berkomitmen untuk memastikan bahwa para pemain, ofisial, dan penggemar dihormati serta dilindungi, dan bahwa tindakan yang tepat diambil ketika insiden terjadi.
Saya memuji wasit Francois Letexier karena telah mengaktifkan protokol anti-rasisme dengan menggunakan gestur tangan untuk menghentikan pertandingan dan menangani situasi tersebut.
FIFA dan dunia sepak bola menyatakan solidaritas penuh kepada para korban rasisme dan segala bentuk diskriminasi.
Saya akan selalu terus menegaskan: Tidak untuk rasisme! Tidak untuk segala bentuk diskriminasi!”
Pernyataan tersebut mempertegas posisi FIFA terhadap dugaan rasisme di Liga Champions.
Kasus dugaan rasisme Vinicius Junior kini menjadi perhatian global.
Sepak bola internasional kembali diingatkan bahwa isu diskriminasi belum sepenuhnya hilang dari lapangan hijau.
Publik menunggu hasil investigasi UEFA secara transparan dan adil.
Komitmen terhadap pemberantasan rasisme di Liga Champions menjadi tanggung jawab bersama seluruh pemangku kepentingan olahraga. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni