RADARTUBAN - Performa AS Roma di kompetisi Serie A musim ini mulai memunculkan sinyal yang kurang menggembirakan.
Tim asuhan Gian Piero Gasperini ternyata sudah menelan sembilan kekalahan hanya dalam 28 pertandingan liga.
Teranyar, i Giallorossi dikalahkan Genoa dengan skor 2-1 dalam laga yang berlangsung di Stadion Luigi Ferraris, Genova, Minggu (9/3) malam.
Statistik tersebut bukan sekadar angka biasa. Catatan itu mengingatkan publik ibu kota Italia pada musim yang tidak terlalu gemilang beberapa tahun lalu.
Data tersebut diungkap jurnalis sepak bola Italia, Guido Olivares, melalui unggahannya di media sosial.
“Roma asuhan Gasperini telah kalah 9 pertandingan dalam 28 pekan liga. Statistik seperti ini terakhir kali terjadi pada musim 2021/22, ketika Roma dilatih Mourinho (finis di posisi keenam pada akhir musim).” tulis Olivares.
Angka itu secara tidak langsung menjadi alarm bagi Roma yang musim ini sempat memunculkan ekspektasi tinggi.
Baca Juga: Zeki Celik Bersiap Tinggalkan AS Roma Gratis, Klub Serie A hingga Premier League Mengintai
Mengulang Bayang-Bayang Musim Mourinho
Jika menoleh ke belakang, musim Serie A 2021/22 memang menjadi salah satu periode penuh naik turun bagi Roma.
Saat itu, klub ibu kota ditangani oleh José Mourinho. Meskipun berhasil menutup musim di posisi keenam klasemen liga, perjalanan mereka tidak pernah benar-benar stabil.
Roma terlalu sering kehilangan poin dalam laga-laga penting. Konsistensi menjadi masalah utama sepanjang musim tersebut.
Kini, statistik serupa kembali muncul di era Gasperini. Setelah 28 pekan, jumlah kekalahan yang sama sudah kembali tercatat.
Bagi klub sebesar Roma, angka sembilan kekalahan sebelum memasuki fase akhir musim jelas bukan indikator ideal untuk bersaing di papan atas.
Konsistensi Jadi PR Besar Gasperini
Gasperini datang dengan reputasi sebagai pelatih yang identik dengan sepak bola agresif dan produktif. Filosofi tersebut sebelumnya sukses ia bangun saat melatih Atalanta.
Namun di Roma, tantangannya berbeda. Ekspektasi tinggi dari publik Olimpico membuat setiap hasil buruk terasa lebih besar dari biasanya.
Kekalahan demi kekalahan membuat tekanan terhadap tim semakin meningkat.
Roma memang masih memiliki waktu untuk memperbaiki posisi di klasemen. Tetapi jika tren kekalahan ini terus berlanjut, target zona Eropa bisa menjadi semakin sulit.
Alarm Dini Jelang Akhir Musim
Musim kompetisi belum selesai, dan Roma masih memiliki beberapa pertandingan penting di depan.
Namun statistik sembilan kekalahan dalam 28 laga memberikan gambaran bahwa perjalanan tim musim ini jauh dari kata stabil.
Roma kini berada di persimpangan: bangkit dan menjaga asa bersaing di papan atas, atau kembali mengulang musim penuh inkonsistensi seperti yang pernah terjadi beberapa tahun lalu.
Bagi Gasperini, sisa musim ini akan menjadi ujian terbesar untuk membuktikan bahwa Roma tidak sedang berjalan mundur. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni