RADARTUBAN – Efek domino dari insiden tendangan kungfu di laga Elit Pro Academy (EPA) Super League U-20 antara Bhayangkara U-20 kontra Dewa United U-20 terus meluas.
Tak hanya berujung sanksi di level tim nasional, kini giliran sponsor mengambil langkah tegas. Specs resmi menangguhkan kerja sama dengan Fadly Alberto, atlet yang terlibat dalam aksi kontroversial tersebut.
Keputusan ini diumumkan melalui pernyataan resmi yang dirilis pada 20 April 2026.
Dalam sikapnya, Specs menegaskan bahwa tindakan kekerasan di lapangan tidak sejalan dengan nilai yang mereka junjung tinggi.
Baca Juga: Sanksi Tegas Timnas U-20: Tendangan Kungfu Fadly Alberto Henga Berujung Dicoret dari Skuad
Sikap Tegas Tanpa Kompromi
Dalam pernyataan resminya, Specs tidak menyisakan ruang abu-abu.
Mereka secara terbuka menyayangkan insiden yang viral dan menjadi sorotan publik.
“Menyikapi video yang beredar terkait dengan salah satu atlet SPECS, kami sangat menyayangkan tindakan tersebut karena tidak sejalan dengan nilai sportivitas, integritas, dan rasa hormat,” tulis pernyataan resmi tersebut.
Lebih jauh, Specs menegaskan prinsip dasar yang mereka pegang.
“SPECS tidak mentoleransi tindakan yang bertentangan dengan prinsip fair play dalam bentuk apa pun.”
Kerja Sama Resmi Ditangguhkan
Langkah konkret pun diambil. Bukan sekadar peringatan, tetapi langsung pada aspek profesional.
“Kami memutuskan untuk menangguhkan segala bentuk kerja sama dan kolaborasi yang sedang berjalan. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari komitmen kami untuk menjaga standar profesionalisme serta mendukung lingkungan olahraga yang aman dan sportif.”
Keputusan ini memperlihatkan bahwa dunia olahraga modern tak lagi hanya bicara performa, tetapi juga citra dan nilai.
Dampak Nyata bagi Karier Pemain
Bagi sang atlet, konsekuensinya jelas: karier tak hanya terganggu di lapangan, tetapi juga di luar lapangan.
Sponsor adalah bagian penting dalam perjalanan profesional pemain, dan kehilangan dukungan berarti kehilangan salah satu pilar utama.
Fenomena ini menjadi peringatan keras bagi pemain muda. Satu tindakan emosional dapat menghapus kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun.
Momentum Bersih-Bersih Sepak Bola Usia Muda
Kasus ini mempertegas bahwa pembinaan usia muda tak cukup hanya mengasah teknik. Nilai sportivitas, kontrol emosi, dan etika bermain harus menjadi fondasi utama.
Specs pun menutup pernyataannya dengan komitmen jangka panjang:
“SPECS tetap berkomitmen mendukung perkembangan sepak bola Indonesia dan pembinaan atlet muda yang menjunjung tinggi nilai sportivitas dan fair play.”
Di tengah sorotan tajam publik, satu pesan mengemuka: sepak bola bukan sekadar menang dan kalah, tetapi juga tentang bagaimana cara bermain—dan menjaga kehormatan permainan itu sendiri. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni