RADARTUBAN - Kabar kurang menggembirakan kembali datang dari sepak bola nasional.
Saat jendela transfer awal musim Super League 2026/27 resmi dibuka, daftar FIFA Registration Bans yang melibatkan klub-klub Indonesia justru belum menunjukkan perbaikan.
Tidak ada satu pun klub yang berhasil keluar dari daftar sanksi, bahkan muncul satu nama baru yang memperpanjang deretan persoalan.
Berdasarkan pembaruan pada laman resmi FIFA Registration Bans per Rabu (8/7), Adhyaksa FC resmi masuk ke dalam daftar klub Indonesia yang sedang menjalani larangan pendaftaran pemain.
Baca Juga: Resmi Pindah ke Kalimantan Tengah, Adhyaksa FC Siap Isi Kekosongan Sepak Bola Kalteng
Adhyaksa FC Jadi Nama Baru dalam Daftar Sanksi
Masuknya Adhyaksa FC menjadi sorotan karena klub promosi ISL 2026/27 itu sebelumnya diproyeksikan aktif memperkuat skuad menghadapi musim baru.
Namun, status larangan registrasi dari FIFA membuat ruang gerak klub berpotensi menjadi terbatas apabila sengketa yang mendasari sanksi belum diselesaikan.
Sementara itu, klub-klub lain yang sebelumnya telah masuk daftar juga masih belum menunjukkan perkembangan penyelesaian kasus.
Artinya, hingga saat ini belum ada perubahan signifikan dibanding pembaruan sebelumnya.
Jendela Transfer Sudah Dibuka, Tetapi Tak Semua Klub Bisa Bergerak
Mengacu pada FIFA Transfer Matching System (TMS), jendela transfer awal musim 2026/27 resmi dibuka pada 7 Juli 2026 dan akan berlangsung hingga 21 September 2026.
Artinya, seluruh klub sebenarnya sudah bisa mendaftarkan pemain baru, terutama transfer internasional.
Namun, kesempatan tersebut tidak berlaku bagi klub yang masih tercantum dalam daftar FIFA Registration Bans.
Dengan kata lain, meski telah mencapai kesepakatan dengan pemain asing atau klub luar negeri, proses registrasi tidak dapat diselesaikan sebelum sanksi dicabut oleh FIFA.
Baca Juga: FIFA Perkenalkan Trionda Final, Bola Khusus Semifinal-Final Piala Dunia 2026!
Ancaman Serius Jelang Kompetisi
Fenomena ini menjadi peringatan bahwa persoalan administrasi dan sengketa kontrak masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi sejumlah klub Indonesia.
Jika penyelesaian kasus terus berlarut, dampaknya tidak hanya menghambat aktivitas transfer, tetapi juga berpotensi mengganggu kesiapan tim menghadapi musim baru.
Di tengah persaingan yang semakin ketat di BRI Super League 2026/27, klub yang gagal membereskan persoalan hukumnya berisiko kehilangan momentum membangun skuad terbaik.
Kini, bola berada di tangan masing-masing manajemen untuk segera menuntaskan sengketa agar sanksi FIFA dapat dicabut sebelum kompetisi dimulai. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni