RADARTUBAN- Ada ironi dalam pembinaan sepak bola di Kabupaten Tuban. Hampir setiap tahun muncul pemain muda dengan kemampuan menjanjikan. Namun, ketika para talenta sepak bola muda mulai tumbuh dan membutuhkan panggung yang lebih tinggi, pintu berikutnya justru tidak banyak tersedia.
Kondisi itu menjadi pekerjaan rumah Budi Sulistiyono, ketua Askab PSSI Tuban. Selama ini, pria asal Desa Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding itu selalu mendorong pembinaan usia muda secara berjenjang.
Dalam beberapa tahun terakhir, kompetisi kelompok umur terus digelar oleh Askab PSSI Tuban dan dikembangkan untuk membuka ruang bagi pemain muda mendapatkan pengalaman bertanding.
Menurut Budi, langkah itu dirasa penting. Sebab, pemain tidak cukup hanya berlatih. Mereka membutuhkan pertandingan untuk menguji kemampuan, membaca permainan, menghadapi tekanan, sekaligus meningkatkan mental bertanding.
Namun, pembinaan usia muda tanpa muara jelas berisiko membuat proses tersebut terputus. Alumni SMAN 2 Tuban itu menyebut, salah satu kendala besar sepak bola Tuban adalah minimnya klub daerah yang aktif dan konsisten berkompetisi di jenjang provinsi dan nasional.
‘’Mati surinya klub membuat pemain muda kesulitan mendapatkan jam terbang lanjutan setelah menyelesaikan jenjang kelompok umur, ini yang masi menjadi PR yang belum bisa diselesaikan bersama,’’ tuturnya.
Mantan manajer Bumi Wali FC itu menuturkan, peralihan dari usia kelompok umur menuju level senior merupakan fase krusial bagi talenta muda sepak bola.
Pemain membutuhkan kompetisi yang lebih kompetitif untuk mengukur sejauh mana hasil pembinaan yang telah dijalani.
‘’Klub memiliki peran strategis sebagai jembatan pembinaan usia muda. Tanpa klub yang aktif, pemain berpotensi kehilangan momentum ketika memasuki usia yang lebih matang,’’ ungkapnya.
Karena itu, Budi tidak ingin pembinaan berhenti pada rutinitas kompetisi kelompok umur. Askab PSSI Tuban membutuhkan dukungan lebih luas untuk membangun kembali kompetisi dan klub yang bisa menjadi rumah bagi talenta lokal.
‘’Anak-anak ini harus punya tempat untuk bermain. Jangan sampai sudah dibina, tetapi setelah itu tidak ada kompetisi dan klub yang menampung,’’ tegasnya.
Budi sadar, membangun sepak bola Tuban bukan pekerjaan satu musim. Dibutuhkan proses panjang dan kesinambungan. Kompetisi usia muda menjadi awal, sedangkan klub dan kompetisi senior harus menjadi muaranya.
‘’Untuk memajukan sepak bola Tuban perlu adanya sinergi, visi serta komitmen dalam satu arah yang sama. Ini yang belum bisa dilakukan sampai saat ini,’’ pungkasnya.(an/ds)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : Radar Tuban