RADARTUBAN - Sebuah warung makan di tengah lahan kebun sengon seluas satu hektar di Desa Bendo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, menarik perhatian pecinta kuliner lokal.
Warung bernama Pecel Tegal Sengon ini memadukan konsep sajian tradisional dengan pengelolaan berstandar tinggi. Tempat usaha yang didirikan sejak pertengahan tahun 2023 ini diprakarsai oleh dr. Ari, seorang dokter spesialis anestesi sekaligus Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Blitar.
Awalnya, area tersebut dialokasikan sebagai tempat berkumpul keluarga serta ruang bersantai masa tua. Namun, potensi kuliner lokal menggerakkan dr. Ari untuk mengalihfungsikan lokasi tersebut menjadi usaha berbasis pemberdayaan warga sekitar.
Bangunan warung memanfaatkan sisa potongan kayu serta bahan bongkaran yang diolah kembali. Pengelolaan harian diserahkan kepada warga setempat yang dinilai membutuhkan lapangan kerja, termasuk dalam penyediaan racikan bumbu pecel serta olahan minuman rempah organik.
Baca Juga: Pecel Jawa Timur Masuk 10 Besar Salad Terbaik Dunia Versi TasteAtlas 2026, Kalahkan Som Tam Thailand
"Latar belakang saya kan dokter spesialis anestesi, biasa dengan pekerjaan yang ada SOP-nya. Prinsip semua dokter itu do no harm, jangan menyakiti pasien. Saya terapkan itu di warung. Makanan harus bersih dan aman, jangan sampai orang yang imunitasnya tidak bagus jadi sakit setelah makan di sini," terangn pendiri Warung Pecel Tegal Sengon, dr. Ari.
Penerapan disiplin operasional diakui memberikan tantangan tersendiri pada masa awal berdirinya usaha. Karena melibatkan karyawan dari kalangan warga desa yang terbiasa dengan pola pikir sederhana, pendekatan manajerial dilakukan secara persuasif tanpa mengorbankan kualitas sajian.
Salah satu fokus utama pengelolaan terletak pada konsistensi rasa bumbu pecel, khususnya pengawasan terhadap kualitas gula merah dan bahan baku utama lainnya agar tidak merubah standar cita rasa yang disajikan kepada pembeli.
Pemasaran warung ini juga mengandalkan promosi media sosial serta kolaborasi dengan kreator konten lokal. Langkah pemasaran digital tersebut mendatangkan lonjakan pengunjung dari berbagai daerah luar Blitar.
Untuk menjaga daya tahan fisik pekerja serta kualitas pelayanan, operasional warung sengaja dibatasi hingga pukul 15.00 WIB setiap harinya.
Terkait keberlanjutan bisnis dan orientasi keuntungan, dr. Ari menegaskan prioritas utamanya adalah kesejahteraan para pekerja lokal.
"Rencana saya profit itu bukan dari jualan pecelnya di sini, tapi dari penjualan sambal pecel secara online kelak. Yang terpenting tempat ini tetap berjalan dan teman-teman pekerja bisa survive serta hidup layak. Saya pribadi digaji sebagai pengelola konten, tetapi keuntungan usaha dialokasikan penuh untuk keberlanjutan warung dan kesejahteraan mereka," pungkasnya.
Melalui integrasi antara pemberdayaan masyarakat, kepatuhan standar higienis, dan pemanfaatan media sosial, Pecel Tegal Sengon berkembang menjadi salah satu destinasi kuliner alternatif di Kabupaten Blitar yang mengedepankan dampak sosial secara berkelanjutan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni