Profil Gus Anas, Kepala KUA Merakurak Tuban Rutin Bimbing Warga Belajar Alquran

M. Mahfudz Muntaha • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 14:16 WIB
Gus Anas mendampingi warga dewasa hingga lansia belajar mengaji dari iqro jilid 1 hingga mampu membaca Alquran. (Radar Tuban)
Gus Anas mendampingi warga dewasa hingga lansia belajar mengaji dari iqro jilid 1 hingga mampu membaca Alquran. (Radar Tuban)

RADARTUBAN - Bagi Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Merakurak, Nurul Yaqin Anas, belajar mengaji Alquran tidak mengenal batas usia.

Hal itu pula yang mendorongnya menyediakan ruang bagi orang-orang dewasa hingga lanjut usia untuk kembali belajar membaca firman Allah. 

Kesibukannya sebagai pejabat di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) Tuban tidak membuat Gus Anas, sapaan akrabnya, berhenti berbagi ilmu.

Jika siang waktunya tersita oleh pekerjaan, malam hari digunakannya untuk mendampingi mereka yang ingin belajar mengaji.

Baca Juga: Sepeda Impor Tiongkok Banjiri Pasar, Ini Rahasia Polygon dan United Bike Tetap Kuasai Pasaran

Kegiatan itu berlangsung setiap Senin, Rabu, dan Jumat malam. Di sebuah majelis yang dibentuknya, para peserta belajar membaca Alquran sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Sebagian bahkan memulainya dari tahap paling dasar. ‘’Jadi di sini diajarkan mulai iqro sampai Alquran,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Gus Anas memahami bahwa keinginan belajar mengaji sebenarnya ada. Hanya saja, tidak semua orang berani memulainya.

Rasa malu dan sungkan kerap menjadi penghalang, terutama bagi mereka yang sudah berusia dewasa atau senja.

Ada yang merasa tidak memiliki lingkungan yang tepat untuk belajar. Ada pula yang sungkan mendatangi tokoh agama yang dianggap lebih alim hanya untuk mengaku belum bisa membaca Alquran.

Dari situlah Gus Anas mencoba menghadirkan suasana belajar yang lebih dekat. Tidak ada jarak. Tidak ada rasa sungkan.

‘’Tapi karena orang-orang itu kenal saya dan juga teman ngopi, jadi mereka dekat dan meminta diajari ngaji sendiri,’’ imbuhnya.

Proses belajar pun berjalan bertahap. Mereka yang sebelumnya sama sekali belum bisa membaca Alquran mulai dari iqro jilid 1.

Setelah menyelesaikan jilid demi jilid hingga iqro 6, mereka kemudian mulai memberanikan diri membaca Alquran.

Bagi Gus Anas, perkembangan itu bukan sekadar kemampuan mengeja huruf-huruf Alquran.

Baca Juga: Ketika Fisika Klasik Gagal Menjelaskan Dunia Atom, Fisika Kuantum Mulai Mengubah Sains

Lebih dari itu, proses tersebut menjadi bukti bahwa kesempatan untuk belajar selalu terbuka, bahkan ketika usia tidak lagi muda.

Majelisnya pun perlahan semakin ramai. Orang-orang yang sebelumnya mungkin hanya menyimpan keinginan untuk bisa mengaji kini memiliki tempat untuk memulainya.

‘’Seiring waktu berjalan, sekarang orang yang mengaji disini pun semakin banyak,’’ pungkasnya. (fud/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Tuban Kemenag Merakurak kua