RADARTUBAN - Berbicara mengenai kecerdasan buatan atau AI, perusahaan asal Amerika Serikat selalu menjadi pemain utama dalam bidang ini.
Perusahaan seperti Meta, Google, OpenAI, hingga Microsoft telah menginvestasikan miliaran dollar AS hanya untuk mengembangkan teknologi AI secerdas mungkin.
Namun kini perusahaan tersebut sepertinya akan sedikit terusik dengan hadirnya AI baru dari Tiongkok.
Perkenalkan dia adalah Deepseek. AI dari negeri Tirai Bambu yang membuat saham-saham perusahaan asal AS mengalami penurunan signifikan pada Senin (27/1) kemarin.
Bahkan perusahaan besar seperti Nvidia dikabarkan kehilangan pasar hampir 600 miliar dollar AS akibat hadirnya Deepseek.
Bagi yang belum tahu, Deepseek merupakan model AI yang dikembangkan oleh Deepseek, sebuah startup yang berdiri pada 2023 lalu.
Deepseek didirikan oleh Liang Wengfeng melalui perusahaan yang berbasis AI yakni High-flyer.
High-flyer sendiri merupakan perusahaan yang bergerak pada bidang komputasi canggih yang berfokus menganalisis data keuangan sejak berdiri pada tahun 2015.
Menariknya Deepseek dikembangkan dengan biaya yang jauh lebih murah dibandingkan biaya pengembangan dari AI lain seperti Copilot, Gemini, atau bahkan ChatGPT.
Deepseek berhasil berdiri dengan biaya 'hanya' 10 juta yuan atau setara dengan Rp 22,3 miliar.
Model awal AI ini dirilis pada tahun 2023, dan pada November 2024 perusahaan merilis versi terbaru yakni Deepseek R1. Model AI ini mendukung aplikasi chatbot pada perangkat seluler dan menjadi alternatif dari ChatGPT.
Kemampuan Deepseek R1 dinilai dapat menandingi para pesaingnya seperti GPT-4 dari OpenAI, Llama dari Meta, maupun Gemini milik Google kendati dikembangkan dengan biaya yang jauh lebih murah.
Menariknya lagi, keberhasilan Deepseek terjadi pada saat Amerika Serikat mulai mengupayakan untuk membatasi pasokan chip AI berteknologi tinggi ke Tiongkok dengan alasan keamanan nasional.
Dengan adanya hal ini, pengembangan Deepseek berfokus pada efisiensi kinerja yang membuat AI tersebut mampu menawarkan kinerja yang baik tanpa membutuhkan chip berteknologi tinggi.
Selain berbiaya rendah, Deepseek juga bersifat open source. Artinya perusahaan yang menggunakan Deepseek dapat menguji serta mengembangkan sendiri model AI tersebut sesuai dengan kemauan mereka.
Kendati begitu bukan berarti Deepseek bukan tanpa kekurangan. Layaknya model AI dari Tiongkok lainnya, Deepseek akan menyensor topik yang dirasa sensitif di negara tersebut seperti sejarah, geopolitik, serta tokoh politik Tiongkok seperti Presiden Xi Jinping.
Dibalik kekurangannya, Deepseek tetap mampu mencuri perhatian dengan mendapatkan unduhan hampir dua juta kali di Toko Aplikasi. Bahkan AI tersebut menduduki peringkat satu di sejumlah negara seperti Kanada, Tiongkok, Singapura, AS, dan inggris. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni