Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Pasar Ponsel Berubah Total: Nokia Tumbang, Samsung - Apple Jadi Raja Baru. Bagaimana Prospek Pabrikan Tiongkok?

Tulus Widodo • Kamis, 18 September 2025 | 23:01 WIB
Persaingan pasar smartphone diperkirakan makin sengit di era saat ini dimana ponsel tak lagi sekadar sebagai alat komunikasi, tetapi jadi pusat produktivitas dan hiburan. Foto adalah ilustrasi.
Persaingan pasar smartphone diperkirakan makin sengit di era saat ini dimana ponsel tak lagi sekadar sebagai alat komunikasi, tetapi jadi pusat produktivitas dan hiburan. Foto adalah ilustrasi.

RADARTUBAN – Ingat era 2007 atau sebelumnya, saat hampir semua orang pegang Nokia dan ringtone “Connecting People” terdengar di mana-mana? Sekarang, peta persaingan ponsel sudah jungkir balik.

Data terbaru dari @seasia.stats memperlihatkan transformasi dramatis: Nokia yang dulu menguasai 35,82 pasar kini lenyap dari daftar 8 besar, digantikan raksasa-raksasa baru asal Tiongkok.

Di posisi puncak, Samsung kini menguasai 21,4 persen pangsa pasar global, hanya beda tipis dengan Apple (20,7 persen).

Xiaomi, Oppo, dan Vivo menjadi trio Tiongkok yang merajai papan tengah, meninggalkan pemain lawas seperti Motorola (1,9 persen) yang kini hanya jadi “nama nostalgia”.

Dari Raja Jadi Kenangan

Dominasi Nokia dan Motorola di 2007 kini hanya jadi catatan sejarah. Saat itu, dua merek ini menguasai lebih dari setengah pasar global.

Namun, kegagalan beradaptasi dengan era smartphone jadi bumerang.

Nokia terlalu lama mempertahankan Symbian OS ketika iOS dan Android sudah mengambil alih.

Blackberry pun tersandung karena terlambat masuk era layar sentuh dan aplikasi pihak ketiga.

“Kesalahan klasik: terlalu nyaman di puncak. Saat mereka sadar, pasar sudah pindah ke Android dan iPhone,” sindir seorang analis teknologi.

Kebangkitan Pabrikan Asia

Kebangkitan ponsel asal Tiongkok jadi cerita besar dekade ini. Xiaomi (12,6 persen), Oppo (9,8 persen), Vivo (8,3 persen), dan Realme (4,5 persen) sukses membangun reputasi lewat fitur premium dengan harga masuk akal.

Kamera canggih, pengisian daya kilat, dan desain futuristik jadi daya tarik utama.

Apple vs Samsung: Duel Abadi

Apple masih jadi simbol gaya hidup dengan ekosistem iOS yang bikin penggunanya sulit pindah ke lain hati.

Samsung unggul di inovasi layar lipat dan variasi produk.

Pertarungan iPhone vs Galaxy S masih jadi “super bowl”-nya dunia teknologi setiap tahun.

Prediksi Pasar Smartphone 2026–2027

Pasar smartphone diperkirakan makin panas.

Analis memperkirakan Nothing dan Honor berpeluang merangsek ke lima besar global jika tren ponsel desain minimalis dan inovasi AI mereka diterima pasar.

Google Pixel juga berpotensi naik kelas jika distribusi global lebih agresif.

Dan, Nokia (HMD Global) mungkin masih punya kans, tetapi harus menawarkan sesuatu yang revolusioner agar bisa kembali relevan.

Sementara, Huawei berusaha bangkit lewat HarmonyOS dan chip buatan sendiri, meski hambatan pasar AS dan Eropa masih menjadi tembok besar.

“Dua tahun ke depan adalah pertaruhan hidup-mati bagi brand yang ingin bertahan. Konsumen semakin cerdas dan tidak ragu pindah merek kalau fitur dan layanan purna jual lebih baik,” kata pengamat industri.

Masa Depan: AI + Foldable

Ponsel bukan lagi sekadar alat komunikasi, tetapi pusat produktivitas dan hiburan.

AI personal assistant, kamera generasi baru, dan perangkat foldable diprediksi jadi standar pada 2027.

Brand yang gagal ikut arus inovasi kemungkinan akan bernasib seperti Nokia atau Blackberry: jadi cerita nostalgia. (*)

Editor : Amin Fauzie
#AI #vivo #Xiaomi #foldable #oppo #pasar smartphone #persaingan ponsel #nokia #samsung #apple