RADARTUBAN – Kalau dulu jadi YouTuber bisa jadi jalan pintas menuju kaya raya, sekarang sepertinya jalan itu mulai berliku — bahkan sebagian sudah buntu.
Banyak kreator digital di Indonesia kini mengaku megap-megap karena penghasilan AdSense yang kian menipis.
Kabar tak sedap ini akhirnya dikonfirmasi langsung oleh Country Director Google Indonesia, Veronica Utami, yang menyebut landscape bisnis konten di YouTube memang berubah drastis dalam dua tahun terakhir.
“Jadi, yang tadi seperti dibilang bahwa memang kreatornya yang makin besar, makin banyak. Itu satu. Tapi at the same time, kenyataannya landscape-nya memang berubah. Memang model konten yang menghasilkan pendapatan dari iklan itu adalah model dua tahun yang lalu, bisa dibilang,” ujar Veronica dalam Press Briefing YouTube Festival, dikutip dari CNBC Indonesia, Rabu (5/11).
Baca Juga: YouTube Hadirkan Fitur “Super Resolution” Berbasis AI untuk Video Berkualitas Rendah
Kreator Melonjak, Kue Iklan Menyusut
Dulu, hanya satu nama besar seperti Raditya Dika yang punya 1 juta subscriber.
Tapi kini, jumlah kanal YouTube Indonesia dengan lebih dari satu juta pelanggan sudah menembus 3.000 channel.
Artinya, kompetisi untuk memperebutkan atensi (dan iklan) makin brutal.
Baca Juga: Ikuti Jejak YouTube, Google Perluas Kebijakan Verifikasi Usia ke Play Store Demi Lindungi Anak
Veronica menjelaskan, sumber penghasilan kreator kini tidak bisa lagi bergantung pada AdSense semata.
YouTube, katanya, mulai membuka jalur baru lewat program YouTube Shopping, kerja sama brand, subscription, dan channel membership.
“Dan buat YouTube, kita hanya mau memastikan bahwa kita juga hadir untuk memberi kemungkinan tersebut,” tuturnya.
Dengan kata lain, Google kini tak ingin kreator hanya menunggu iklan, tapi dipaksa lebih kreatif dalam mencari pundi-pundi uang.
“Bisa kasih subscription, channel membership, jadi ini kita kasih opsi aja,” imbuhnya.
Veronica menyebut perubahan ini adalah bentuk diversifikasi — bukan hanya untuk pemasukan kreator, tapi juga bagi ekosistem YouTube sendiri: mulai dari penonton, pengguna, hingga para pendukung di balik layar.
AdSense Sekarang Cuma Bonus
Kenyataan di lapangan? Tak semanis dulu. Beberapa YouTuber besar kini terang-terangan mengaku, penghasilan mereka dari AdSense sudah tak bisa diandalkan.
Salah satunya Fitra Eri, kreator otomotif yang langganan trending.
Ia bilang, nilai AdSense di Indonesia terlalu kecil untuk dijadikan sumber utama.
“AdSense di Indonesia tidak bisa jadi sumber utama karena nilainya kecil,” ujarnya.
Fitra mengaku, sebagian besar penghasilannya kini berasal dari kerja sama dengan brand otomotif. Pendapatan dari iklan YouTube justru dianggap sebagai bonus kecil.
“Itu nilainya bisa berkali-kali lipatnya AdSense. Jadi sebenarnya yang dibutuhkan itu bukan nilai AdSense, tapi view. Karena kalau view kita banyak, pasti harga kita untuk ke brand pasti jadi lebih tinggi,” katanya.
Dari Emas ke Tembaga
Hal serupa diakui Mikhail, kreator teknologi di kanal Gadget Apa.
Ia bahkan menyebut penghasilannya kini menurun hingga enam kali lipat dibanding masa keemasan 2016–2018.
Penurunan ini, menurut Mikhail, bukan cuma soal algoritma YouTube yang acak, tapi juga efek domino dari ledakan jumlah kreator baru, terutama sejak pandemi Covid-19.
“Tapi ini dalam artian nggak cuman hanya algoritma doang, tapi karena banyak banget konten kreator yang baru muncul. Nggak hanya satu doang, efeknya domino banget, nggak cuman karena itu aja,” terangnya.
Dunia Digital Tak Lagi Janji Surga
Dulu, jadi YouTuber berarti punya mimpi hidup dari kamera dan subscriber.
Kini, realitanya lebih keras: yang tak adaptif akan tenggelam. Kreator harus gesit mencari celah baru — dari jualan produk, endorse, sampai bikin konten kolaboratif lintas platform.
Fakta ini menegaskan satu hal: masa ketika “cukup upload, lalu uang mengalir” sudah lewat. Sekarang, jadi kreator bukan cuma soal bakat dan ide, tapi strategi bisnis digital yang matang.
Dan seperti kata salah satu YouTuber senior Tuban yang enggan disebut namanya, “Kalau dulu YouTube itu tambang emas, sekarang cuma tambang tembaga. Masih bisa hidup, tapi harus kerja dua kali lipat.”
Fenomena turunnya penghasilan AdSense bukan akhir dunia kreator. Tapi ini sinyal bahwa industri digital sudah dewasa — tak lagi glamor, tapi kompetitif dan brutal. Dunia maya kini menuntut realisme: siapa yang adaptif, dia yang bertahan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni