RADARTUBAN - Google lagi-lagi menyesuaikan kebijakan mengenai praktek sideload setelah mendapatkan kritik dari komunitas dan pengembang aplikasi.
Sebelumnya, perusahaan mengumumkan bahwa mulai tahun depan Android akan memblokir instalasi aplikasi dari pengembang yang belum terverifikasi.
Langkah ini dinilai dapat mengancam praktek sideloading yang sudah lama menjadi bagian dari ekosistem Android.
Atas masukan itu, Google menawarkan kelonggaran berupa alur lanjutan yang memungkinkan pengguna ahli tetap dapat memasang aplikasi pihak ketiga dari pengembang tidak terverifikasi.
Alur ini akan dirancang dengan berbagai peringatan berlapis dan konfirmasi eksplisit agar pengguna paham terhadap resiko keamanan serta meminimalisir pontesi paksaan dari penipu.
Hingga saat ini, Google masih terus mengumpulkan umpan balik dari komunitas sebelum memfinalisasi sistemnya.
Keberadaan alur baru ini diharapkan Google menjadi alternatif yang lebih praktis dibandingkan dengan sideloading menggunakan ADB yang menjadi opsi satu-satunya cara jika pembatasan diberlakukan oleh perusahaan
Alat seperti Shizuku juga dinilai akan membantu, tetapi keberlanjutannya jelas tidak pasti, sehingga kelonggaran yang diberikan Google menjadi sebuah hal penting bagi komunitas Android.
Selain itu, Google juga membuka program akses awal verifikasi developer.
Pengembang aplikasi yang biasa mendistribusikan aplikasi buatannya diuar Play Store dikatakan sudah menerima undangan sejak 3 November lalu.
Sedangkan bagi para pengembang yang mendistribusikan aplikasi mereka di Play Store, akan di undang Google mulai akhir bulan ini.
Tujuannya jelas, Google ini memastikan identitas pengembang sebelum akhirnya aturan ini ditetapkan secara luas.
Perusahaan mengatakan alasan utama kebijakan ini tak lain adalah mengurangi resiko penipuan.
Pasalnya dalam beberapa waktu terakhir, serangan penipuan yang bermodus menginstal aplikasi palsu kerap kali terjadi.
Aplikasi palsu tersebut dilaporkan akan mencuri data dan kode autentikasi yang penting.
Kendati begitu, Google mengakui bahwa sistem ini akan menyulitkan bagi para penghobi dan pelajar.
Untuk itu, perusahaan tengah menyiapkan akun khusus tanpa adanya biaya pendaftaran dengan persyaratan yang lebih ringan.
Hanya saja penginstalan aplikasi yang didistribusikan melalui jenis akun tersebut akan dibatasi oleh Google.
Hingga saat ini Google terus meninjau masukan dari komunitas sebelum akhirnya aturan ini diberlakukan.
Meskipun kontroversial, kebijakan ini dapat menjadi cara baru yang meminimalkan resiko tindakan penipuan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni