Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Apakah Guru Matematika Akan Hilang Di Era Perkembangan Ai yang Semakin Canggih, Berikut Penjelasannya

M Robit Bilhaq • Minggu, 7 Desember 2025 | 14:53 WIB
Ilustrasi kecanggihan yang dimiliki AI.
Ilustrasi kecanggihan yang dimiliki AI.

RADARTUBAN – Banyak sekolahan yang ada di Indonesia, guru masih memulai pelajaran matematika dengan menuliskan rumus di papan tulis.

Setelah itu, siswa diminta menghafal rumus tersebut, meniru langkah-langkah pengerjaan, lalu mengganti angka sesuai contoh soal yang diberikan.

Cara yang diterapkan tersebut sering kali menjasikan siswa hanya memahami permukaan, tanpa benar-benar mengerti konsep di baliknya.

Contohnya, ketika guru menuliskan rumus luas segitiga “L = ½ × a × t”, jarang sekali siswa diajak menelusuri bagaimana rumus itu terbentuk.

Memang siswa mampu menyelesaikan soal-soal rutin, tetapi siswa seringkali cenderung kesulitan saat menjelaskan alasan penggunaan rumus atau menghubungkannya dengan situasi nyata.

Tantangan ini semakin terasa di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang kini dapat menyelesaikan soal matematika dengan cepat dan tepat.

Pada perkembangan teknologi AI, pengajaran pelajaran matematika tidak lagi hanya sebatas fokus pada hafalan rumus.

Guru perlu mengalihkan perhatian pada kemampuan bernalar yang tidak bisa digantikan mesin.

Seperti berpikir matematis, memahami konsep secara mendalam, dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.

Pendekatan prosedural dimana guru menunjukkan langkah-langkah dan siswa menirukan bisa menjadi yang lebih relevan pada masa awal revolusi industri (1760–1840).

Saat itu, pekerja pabrik dituntut mengikuti prosedur tetap, sehingga latihan berulang dianggap memadai.

Namun pada abad ke-22, pendidikan harus menonjolkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, penalaran, serta fleksibilitas.

Sitti Maesuri Patahuddin, Associate Professor di Pusat Penelitian Pendidikan STEM (SERC), Fakultas Pendidikan Universitas Canberra, dalam tulisannya berjudul “AI makin jago berhitung, guru perlu ajarkan matematika secara kritis” yang dimuat The Conversation pada 18 November 2025, mejelaskan bahwa saat siswa bisa bertanya pada ChatGPT atau Wolfram Alpha untuk menghitung luas balok, maka nilai pembelajaran tidak hanya sebatas pada hasil hitungan saja.

Tetapi nilai pembelajaranberada pada proses berpikir yang melatarbelakanginya.

Sejumlah negara seperti Australia, Singapura, Finlandia, dan Kanada saat ini telah menerapkan pendekatan berbasis inkuiri, dalam pendekatan yang diterappkan tersebut siswa diajak menyelidiki masalah nyata, membandingkan berbagai strategi, dan menemukan prinsip matematika secara bersama-sama.

Dalam model Teaching Through Problem Solving, guru tidak lagi memberikan rumus secara langsung seperti contoh.

Siswa diminta menentukan jumlah kertas yang diperlukan untuk membungkus sebuah kotak, mereka melakukan pengukuran, membuat sketsa, berdiskusi, hingga akhirnya menemukan sendiri rumus yang dibutuhkan.

Pendekatan yang dilakukan tersebut juga sudah sejalan dengan kerangka ELPSA (Experience, Language, Pictorial, Symbolic, Application) serta visi OECD Learning Compass 2030 dan UNESCO Futures of Education yang menekankan pembelajaran yang kontekstual, reflektif, dan bermakna.

Pada sekolah dasar yang ada di Australia, guru mengajak siswa menganalisis data cuaca untuk menentukan “kapan waktu terbaik bermain pada hari Senin.”

Dengan penerapan pembelajaran tersebut, siswa belajar menyajikan informasi dalam bentuk grafik, memahami data secara lebih mendalam, dan membuat keputusan yang didasari oleh bukti. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#AI #papan tulis #pelajaran #guru #Indonesia #matematika