RADARTUBAN - Franchise horor Silent Hill sepertinya telah memasuki babak baru.
Setelah puluhan tahun identik dengan kofa berkabut di Amerika, Konami kini memberikan sinyal kuat bahwa Silent Hill tidak akan terpaku lagi di satu tempat.
Sinyal ini muncul setelah Silent Hill f menuai kesuksesan besar yang memindahkan latar tempat ke wilayah Jepang era 60an.
Meskipun langkah ini menuai pro dan kontra, tetapi hasil akhirnya justru positif yang membuat Silent Hill f menjadi salah satu game tersukses dari waralaba ini.
Selain itu, game tersebut membuktikan bahwa horor psikologis yang menjadi tema utama Silent Hill dapat diterjemahkan ke lintas budaya.
Produsen Silent Hill, Motoi Okamoto mengakui bahwa tim pengembang kini mulai mendiskusikan kemungkinan untuk membawa seri ini ke wilayah lain.
Bahkan beberapa wilayah seperti Rusia, Italia, serta Amerika Selatan dan Tengah telah disebut sebagai lokasi yang potensial.
Menurut Okamoto tujuan perubahan ini bukan hanya untuk mengganti pemandangan, tetapi juga mengeksplorasi sistem kepercayaan, cerita rakyat, dan kecemasan sosial yang unik disetiap wilayah.
Unsur-unsur ini dinilai cocok dengan DNA Silent Hill yang menekankan horor psikologis dan simbolisme yang mendalam.
Hanya saja ambisi tersebut juga memiliki sejumlah tantangan. Konami mengakui tidak semua wilayah memiliki studio game yang cukup mapan untuk mengani IP besar seperti Silent Hill.
Di beberapa kawasan banyaknya cerita rakyat dapat dieksplorasi oleh Konami, tetapi menerjemahkannya ke dalam game dengan standar tinggi jelas bukan perkara yang mudah.
Tetapi dibalik semua itu, Konami seperti menegaskan Silent Hill bukalah tempat fisik, melainkan kondisi.
Dia bisa muncul di mana saja, selama didukung budaya, sejarah, dan trauma sosial yang tepat.
Meskipun tidan ada pengumuman judul baru, pernyataan Okamoto membuka kemungkinan bahwa Silent Hill akan hadir dengan beragam wajah baru sesuai latar tempat yang dibawa. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni