RADARTUBAN – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali melanda industri game global.
Kali ini, Riot Games dikabarkan memangkas sekitar 80 karyawan yang terlibat dalam pengembangan game fighting berbasis universe Runeterra, 2XKO.
Jumlah tersebut diperkirakan hampir setengah dari total tim pengembang yang menangani proyek tersebut.
PHK Usai Ekspansi ke Konsol
Keputusan ini muncul tidak lama setelah 2XKO resmi dirilis untuk konsol PlayStation 5 dan Xbox Series X|S, menyusul versi PC yang lebih dulu hadir.
Produser eksekutif 2XKO, Tom Cannon, menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil setelah perusahaan melakukan evaluasi terhadap pola keterlibatan pemain pasca-ekspansi ke platform konsol.
Meski game ini berhasil membangun basis penggemar yang cukup kuat, Riot menilai pertumbuhannya belum mampu menopang struktur tim berskala besar dalam jangka panjang.
Baca Juga: CEO The Washington Post Will Lewis Resmi Mengundurkan Diri Usai Gelombang PHK Besar-besaran
Bukan Karena Performa Individu
Cannon menegaskan bahwa pemangkasan karyawan bukan didasarkan pada performa individu, melainkan bagian dari perubahan strategi internal Riot dalam mengelola proyek dan sumber daya.
Langkah ini disebut sebagai bentuk penyesuaian struktur agar pengembangan game tetap berkelanjutan.
Daya Tarik 2XKO di Genre Fighting
Sebagai game fighting, 2XKO menawarkan sejumlah keunggulan dibandingkan kompetitornya.
Game ini menghadirkan animasi yang fluid, sistem combo cepat, serta format tag-team yang memungkinkan pemain berganti karakter dalam satu pertandingan.
Konsep tersebut membuat 2XKO cukup ramah bagi pemain baru maupun penggemar game bertarung kompetitif.
Pengembangan Tetap Berlanjut
Di tengah kabar PHK, Riot memastikan pengembangan 2XKO tidak dihentikan. Rencana musim kompetitif 2026 juga disebut tidak mengalami perubahan.
Perusahaan juga dikabarkan berupaya menempatkan sebagian karyawan terdampak ke posisi lain di internal Riot, jika memungkinkan.
Dengan tim yang kini lebih ramping, 2XKO memasuki fase krusial. Keberlanjutan game ini akan sangat ditentukan oleh konsistensi pembaruan konten, strategi komunitas, serta kemampuan Riot menjaga kepercayaan pemain di tengah persaingan ketat industri game global. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni