RADARTUBAN - Perusahaan induk Facebook, Meta, baru-baru ini mengumumkan kerja sama jangka panjang dengan Nvidia membeli jutaan GPU generasi terbaru Blackwell dan Rubin.
Meskipun tidak diungkapkan secara pasti, kesepakatan ini diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar AS.
Penggunaan GPU dan CPU untuk Pusat Data AI
Tak hanya GPU, Meta juga berkomitmen membeli CPU Grace dari Nvidia secara terpisah. Prosesor ini akan digunakan di pusat data AI Meta yang tersebar di Amerika Serikat, India, dan sejumlah lokasi global lain.
Meta bahkan menjadi perusahaan pertama yang menggunakan CPU Grace secara mandiri tanpa dipasangkan dengan GPU tambahan. Chip-chip tersebut akan menopang pusat data hyperscale yang dirancang khusus untuk pelatihan dan inferensi AI.
Baca Juga: Tantang Dominasi Nvidia, Intel Siapkan GPU untuk Infrastruktur AI dan Data Center
Infrastruktur Jaringan Skala Besar
Dari sisi jaringan, Meta akan memanfaatkan switch Ethernet Spectrum-X milik Nvidia yang terintegrasi dengan Facebook Open Switching System (FBOSS) untuk mengelola infrastruktur berskala besar.
Keamanan Data dengan Confidential Computing
Salah satu sorotan utama kerja sama ini adalah adopsi platform Confidential Computing dari Nvidia.
Teknologi tersebut akan diterapkan pada WhatsApp untuk menghadirkan fitur AI langsung di dalam aplikasi, sekaligus menjaga keamanan dan kerahasiaan data pengguna.
Berbeda dari enkripsi end-to-end yang hanya melindungi data saat dikirim, Confidential Computing memungkinkan data tetap terlindungi selama proses komputasi berlangsung baik di server atau cloud.
Menurut Nvidia, pendekatan ini akan membantu pengembang dan penyedia AI pihak ketiga melindungi kekayaan intelektual mereka pada saat menjalin kolaborasi.
Rencana Pengembangan Lanjutan
Ke depan, Meta dan Nvidia berencana memperluas penggunaan teknologi ini ke berbagai layanan lain di ekosistem Meta, meski detail dan jadwal penerapannya hingga kini belum diungkap.
Investasi ini sejalan dengan rencana Meta menggelontorkan hingga 135 miliar dolar AS untuk AI pada 2026 dan membangun puluhan pusat data baru hingga 2028. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni