RADARTUBAN - Saat ini kemajuan teknologi yang berlangsung secara masif telah mampu memudahkan manusia dalam berbagai aspek kehidupan.
Salah satu terobosan terbaru datang dari Neuralink, perusahaan yang dirintis oleh Elon Musk yang berfokus pada pengembangan chip otak, yang baru-baru ini melaporkan bahwa mereka telah menjaring lebih dari 10.000 pendaftar dari seluruh dunia.
Masyarakat luas berkesempatan untuk mengajukan diri sebagai kandidat dalam uji coba penanaman chip tersebut melalui sebuah program yang dinamakan "Patient Registry".
Layanan pendaftaran pada situs resmi perusahaan tersebut telah mulai dioperasikan secara terbuka sejak awal tahun ini.
Baca Juga: Mantan Karyawan Google Didakwa Curi Informasi Rahasia Chip Tensor, Terancam 20 Tahun Penjara
Hingga kini, sudah terdapat 12 pasien yang tercatat dan telah menjalani prosedur penanaman chip dalam rangkaian uji klinis, yang mana teknologi tersebut membantu mereka untuk mengoperasikan perangkat komputer cukup dengan menggunakan kekuatan pikiran.
Pihak perusahaan juga berencana akan menambah 13 pasien lagi untuk mendapatkan implan serupa sebelum penutupan tahun 2025 mendatang.
Walaupun proses uji coba tersebut masih diprioritaskan bagi individu yang mengalami kelumpuhan akibat gangguan saraf motorik atau kerusakan tulang belakang, Elon Musk memiliki visi bahwa teknologi tersebut nantinya akan tersedia untuk masyarakat umum yang tidak memiliki keterbatasan fisik.
Elon Musk berpendapat bahwa, pengembangan chip otak di generasi mendatang berpeluang membawa manusia pada tahap simbiosis dengan kecerdasan buatan atau AI.
Elon Musk juga menyampaikan potensi besar lainnya dari penggunaan chip ini, seperti kemampuan mengirimkan musik secara langsung ke dalam otak, memulihkan kemampuan melihat pada tunanetra, dan juga mewujudkan komunikasi jarak jauh lewat telepati.
Bahkan dalam sebuah tayangan langsung pada Juli lalu yang dikutip dari The Independent pada Minggu (12/4), Musk menyatakan bahwa teknologi ini bisa menyentuh level di mana memori seseorang bisa diunggah untuk disimpan, dan kemudian bisa dipindahkan ke tubuh robotik atau hasil kloning.
DJ Seo, selaku Presiden dan salah satu pendiri Neuralink, memaparkan data mengenai tingginya minat pendaftar ini dalam laporan riset terbaru dari Morgan Stanley minggu ini.
Laporan dari Morgan Stanley tersebut juga menyoroti persoalan etika serta aspek hukum yang mungkin akan muncul seiring dengan berkembangnya teknologi antarmuka otak-komputer.
Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa meskipun tema ini sering muncul dalam literatur maupun film fiksi ilmiah, teknologi tersebut adalah wilayah baru bagi peradaban manusia yang akan menuntut pertimbangan mendalam dari sisi moral, etika, dan juga aturan hukum dan regulasi.
Baca Juga: Tiongkok Izinkan Impor Chip AI NVIDIA H200, DeepSeel hingga Alibaba Dapat Lampu Hijau
Adapun versi chip yang diimplementasikan saat ini, yaitu model N1, yang bekerja dengan cara menyambungkan otak ke komputer melalui koneksi Bluetooth.
Melalui perangkat tersebut, seorang yang telah terpasang chip di otaknya berhasil melakukan berbagai aktivitas digital seperti mengoperasikan lengan robot, melakukan pencarian di internet, bahkan bisa bermain gim Mario Kart hanya dengan mengandalkan fokus pikiran mereka.
Editor : Yudha Satria Aditama