Sulit Ditembus! Terungkap Alasan Android dan iOS Kuasai Pasar Smartphone Dunia

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 18:13 WIB
Persaingan sistem operasi smartphone Android dan iOS serta pupusnya ruang bagi OS alternatif. (pinterest.com)
Persaingan sistem operasi smartphone Android dan iOS serta pupusnya ruang bagi OS alternatif. (pinterest.com)

RADARTUBAN - Era digital yang kian modern, pilihan sistem operasi (operating system/OS) pada smartphone praktis hanya menyisakan dua nama besar: Android milik Google dan iOS ciptaan Apple.

Padahal, jika menengok ke era 1990-an hingga pertengahan 2000-an, industri telepon genggam diwarnai keberagaman sistem operasi yang saling bersaing ketat, mulai dari Symbian, BlackBerry OS, Windows CE, hingga Palm OS.

Kini, dominasi duopoli ini hampir tidak menyisakan ruang bagi OS alternatif untuk tumbuh secara global.

Transisi besar industri ini dimulai ketika Apple meluncurkan iPhone pada tahun 2007 yang mempopulerkan antarmuka layar sentuh, disusul dengan kehadiran toko aplikasi App Store pada tahun 2008.

Langkah ini memungkinkan pengembang pihak ketiga membuat aplikasi secara luas dan menciptakan ekosistem digital baru. Tak lama berselang, pada tahun 2008 Google merilis Android sebagai sistem operasi sumber terbuka (open source) yang bisa digunakan secara gratis oleh pabrikan mana saja.

Baca Juga: Google Perluas Fitur Verifikasi Usia untuk Pengembang Android Secara Global

Fleksibilitas tersebut membuat pengadopsian Android melonjak tajam hingga berhasil menyalip basis pengguna iOS pada Mei 2012.

Kunci utama kegagalan OS pesaing dan makin kokohnya Android serta iOS terletak pada fenomena pasar yang dikenal sebagai two-sided network effect.

Pengembang aplikasi hanya tertarik membuat perangkat lunak pada platform yang memiliki banyak pengguna. Sebaliknya, pengguna ponsel hanya akan membeli perangkat yang memiliki ketersediaan aplikasi lengkap.

Begitu Android dan iOS berhasil merebut momentum awal tersebut, platform baru hampir mustahil untuk masuk dan bersaing secara seimbang.

Guna mempertahankan dominasi, baik Apple maupun Google menerapkan strategi walled garden yang mengikat pengguna ke dalam ekosistem mereka.

Apple mengontrol seluruh perangkat keras, lunak, hingga layanannya secara eksklusif, sementara Google memanfaatkan Google Mobile Service (GMS) seperti Google Maps, YouTube, dan Play Store sebagai syarat wajib bagi produsen ponsel yang ingin mengadopsi Android versi resmi.

Ketergantungan terhadap layanan ini membuat produsen raksasa seperti Samsung tidak berani beralih dari Android karena risiko kehilangan pasar internasional.

Sejumlah upaya untuk menghadirkan sistem operasi ketiga sebenarnya pernah dilakukan oleh raksasa teknologi lain, namun berujung pada kegagalan.

Mozilla sempat merilis Firefox OS pada tahun 2013 namun mati pada 2016, BlackBerry gagal membendung arus lewat BlackBerry 10 hingga akhirnya menghentikan produksi ponsel, Amazon terpuruk dengan Firephone pada 2014, serta Microsoft yang menelan kerugian hingga 7,6 miliar dolar AS akibat kegagalan ekosistem Windows Phone pasca-akuisisi divisi ponsel Nokia.

Baca Juga: Uni Eropa Paksa Google Buka Android dan Data Penelusuran untuk Pesaing

Di tengah kondisi pasar yang hampir terkunci, tantangan nyata justru lahir akibat dinamika geopolitik. Sanksi perdagangan yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap Huawei pada tahun 2019 memutus akses produsen asal Tiongkok tersebut dari GMS. 

Hal ini memaksa Huawei mengembangkan platform mandiri bernama Harmony OS. Pada versi terbarunya, HarmonyOS Next, Huawei sepenuhnya melepaskan ketergantungan dari basis Android dan beralih ke microkernel buatan sendiri.

Dikutip dari kanal YouTube Di Tekno In, langkah terpaksa Huawei tersebut mencatatkan pertumbuhan signifikan di pasar domestiknya.

"Secara global, Harmony OS berhasil menyentuh angka 4 hingga 5 persen pangsa pasar. Untuk sebuah sistem operasi baru yang benar-benar berdiri sendiri kurang dari dua tahun, angka pertumbuhan tersebut sangat cepat," ujar pengunggah konten saat menganalisis dinamika industri OS saat ini.

Meski Harmony OS berhasil menyalip iOS di pasar Tiongkok pada pertengahan 2026, ekspansi ke tingkat internasional termasuk di Indonesia masih menghadapi tantangan besar.

Tanpa dukungan akses ke layanan Google serta aplikasi populer yang biasa digunakan sehari-hari, sistem operasi baru akan sulit diterima pengguna umum di luar pasar domestik Tiongkok. Produsen lain seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo pun tetap memilih bertahan menggunakan Android untuk menjaga pangsa pasar global mereka. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
smartphone ios google apple android