RADARTUBAN- Tuban dikenal sebagai kota yang sarat dengan sejarah Islam dan tradisi kuliner khas yang tetap lestari hingga kini. Salah satu tradisi kuliner unik yang hanya muncul di bulan Ramadan adalah Bubur Suro Sunan Bonang dan Bubur Muhdor.
Kedua bubur ini bukan sekadar makanan biasa, tetapi juga memiliki nilai historis dan makna tersendiri bagi masyarakat setempat.
Setiap hari selama bulan Ramadan, suasana kompleks makam Sunan Bonang selalu dipenuhi oleh aktivitas gotong royong warga yang tengah memasak Bubur Suro Sunan Bonang.
Tradisi ini sudah berlangsung lama dan dikelola oleh Yayasan Mabarrot Sunan Bonang.
Bubur ini memiliki ciri khas berwarna kuning keemasan yang berasal dari campuran rempah-rempah khas, terutama bumbu gulai. Untuk pembuatannya, dibutuhkan sekitar 12 kilogram beras dan 5-10 kilogram tulang sapi setiap harinya.
Proses memasaknya menggunakan bumbu seperti bawang merah, bawang putih, garam, serta santan dari enam butir kelapa yang dimasak dalam wajan besar.
Uniknya, bubur ini dibagikan secara gratis kepada masyarakat di sekitar Masjid Astana Sunan Bonang setelah jamaah shalat Ashar selesai. Karena jumlahnya terbatas, bubur ini biasanya langsung habis dalam hitungan menit.
Tak hanya menjadi sajian berbuka puasa, Bubur Suro juga menjadi simbol kebersamaan dan keberkahan di bulan Ramadan.
Tak jauh dari pusat kota, tepatnya di daerah Kutorejo, tradisi serupa juga berlangsung dengan sajian khas bernama Bubur Muhdor. Berbeda dengan Bubur Suro Sunan Bonang, Bubur Muhdor memiliki cita rasa yang lebih kaya akan rempah-rempah khas Timur Tengah.
Ratusan orang rela mengantre setiap sore untuk mendapatkan bubur ini sebagai menu takjil berbuka puasa.
Bubur Muhdor dibuat dengan bahan dasar beras, santan kelapa, daging kambing, serta campuran rempah-rempah yang memberikan rasa khas Timur Tengah. Proses memasaknya memakan waktu antara dua hingga tiga jam agar mendapatkan tekstur yang sempurna dan rasa yang meresap.
Pembagian bubur ini dilakukan sekitar pukul 16.00 WIB, menjadi alternatif bagi mereka yang tidak kebagian Bubur Suro Sunan Bonang.
Tradisi Bubur Muhdor memiliki makna lebih dari sekadar makanan. Bagi masyarakat etnis Arab di Kutorejo, bubur ini merupakan bentuk penghormatan terhadap bulan Ramadan, sekaligus menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah melalui gotong royong.
Selain itu, bubur ini juga diyakini memiliki manfaat kesehatan dan keberkahan bagi siapa pun yang menyantapnya. Dinamakan "Bubur Muhdor" karena proses pembuatannya berlangsung di halaman Masjid Al-Muhdor.
Bubur Suro Sunan Bonang dan Bubur Muhdor bukan sekadar makanan khas Ramadan, tetapi juga simbol kebersamaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat Tuban.
Tradisi ini mengajarkan nilai-nilai berbagi, gotong royong, serta keberkahan bulan suci Ramadan.
Bagi yang berkunjung ke Tuban saat Ramadan, tak lengkap rasanya jika tidak mencicipi dua bubur legendaris ini.
Selain menikmati kelezatannya, kita juga bisa merasakan atmosfer kebersamaan yang begitu kental dalam setiap porsinya. Jadi, kalau ada kesempatan, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi kuliner khas yang hanya hadir setahun sekali ini! (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni