Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Renis Suryaningrum, Anak Muda Tuban yang Konsisten Lestarikan Tari Tradisional hingga Jadi Duta Tari

Shafa Dina Hayuning Mentari • Jumat, 6 Februari 2026 | 18:00 WIB

Renis Suryaningrum.
Renis Suryaningrum.

RADARTUBAN - Bagi sebagian anak muda, panggung hiburan mungkin identik dengan dentum musik modern dan koreografi energik.

Namun, bagi Renis Suryaningrum, panggung adalah tempat di mana sejarah dan keanggunan bertemu dalam satu harmoni tari tradisional.

Lahir dan tumbuh dengan kecintaan pada budaya lokal, Renis konsisten mengasah kemampuannya hingga jenjang SMK. Bahkan, konsistensi itu tak luntur saat dia memasuki perguruan tinggi.

Pada tahun 2023, dia dinobatkan sebagai salah satu dari sepuluh penari terbaik dalam ajang Duta Tari Kabupaten Tuban. Sebuah penghargaan atas dedikasinya dalam menjaga warisan leluhur.

Di tengah maraknya tren tarian modern, pilihan gadis asal Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban ini bertahan di jalur seni tradisional seringkali mengundang tanda tanya.

Namun, bagi Renis, jawabannya sederhana, ada rasa yang tidak bisa ditemukan di kesenian lain.

‘’Aku menyukai keindahan geraknya yang khas dan keanggunan busananya. Tari tradisional itu bukan hanya soal gerak, namun warisan budaya yang memiliki nilai filosofis, sejarah, dan pesan moral yang dalam,” ujar Renis.

Kepiawaiannya pun tidak perlu diragukan. Perempuan 23 tahun ini menguasai berbagai tarian khas Bumi Ronggolawe, seperti tari miyang dan lencir kuning. Tak hanya itu, dia juga mahir membawakan tari gambyong dan remo.

Bahkan, jam terbangnya telah melintasi berbagai kecamatan di Tuban hingga lintas kota, seperti dari Mojokerto, Kediri, Pati, Gresik, dan Blora.

Kiprah lulusan jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Unirow Tuban ini pun semakin berkembang pesat. Tidak hanya aktif sebagai penari professional.

Dia juga mengabdikan diri sebagai guru ekstrakulikuler tari. Tujuannya sangat mulia, ingin memastikan bahwa regenerasi penari tradisional tidak akan pernah putus.

‘’Aku merasa beruntung karena lingkungan sekitarku sangat mendukung. Terutama dengan banyaknya sekolah yang menjadikan tari sebagai kegiatan ekstrakulikuler. Ini bisa jadi sinyal positif bahwa budaya lokal masih memiliki ruang di hati masyarakat,” tutur lulusan SMKN 1 Tuban ini.

Lewat setiap gerakan yang diajarkan pada anak didiknya maupun yang dia tampilkan di atas panggung, Renis merasa berkontribusi dalam menguatkan kembali identitas bangsa yang mulai hilang ditelan zaman.

‘’Bagiku musik dan busana tari tradisional itu unik dan berkesan. Ada kebanggaan tersendiri saat memakai dan menampilkan identitas budaya ini. Jika bukan kita yang menjaga, lalu siapa lagi?” tandas gadis Pisces ini.(saf/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#penari #ekstrakurikuler #tari #guru