RADARTUBAN - Pernah nggak sih temen-temen kepikiran siapa Ronggolawe itu? Kenapa ia selalu dikaitkan dengan Tuban? Bahkan patung kudanya saja, ada di Alun-Alun. Pasti Ronggolawe merupakan tokoh penting, kan?
Berdasarkan Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe, Ranggalawe atau Ronggolawe merupakan putra dari Arya Wiraraja yang kala itu menjabat sebagai bupati di Songeneb, yang sekarang dikenal sebagai Sumenep.
Ronggalawe sempat menetap di Tanjung, sebuah wilayah yang terletak di bagian barat Pulau Madura.
Ternyata asal-usul Tuban memang tidak bisa dilepaskan dari Raden Haryo Ronggolawe. Kenapa demikian? Simak artikelnya sampai habis!
1. Bupati Kedua Tuban
Ronggolawe, putra Arya Wiraraja merupakan salah satu pengikut setia Raden Wijaya dalam perjuangan mendirikan Majapahit. Sebagai penghargaan atas jasanya, dia diangkat menjadi Adipati Tuban.
Namun, kecemburuan sosial dan ambisi pribadi mendorongnya untuk melakukan pemberontakan.
Meskipun akhirnya gugur sebagai pemberontak pertama Majapahit, pengaruhnya yang besar dalam sejarah kerajaan tetap diakui,
Dalam penelusurannya, dapat dikatakan bahwa tokoh utama dari sejarah Tuban merupakan Raden Haryo Ronggolawe, yang ternyata adalah putra dari Aria Wiraraja.
Dia meneruskan tongkat kepemimpinan R. Adipati Dandang Watjono dan tercatat memimpin Tuban mulai 1282 - 1291.
Ronggolawe diangkat sebagai Adipati atau Bupati Tuban oleh Raden Wijaya, raja pertama Majapahit. Hari jadi Tuban yang diperingati setiap tanggal 12 November merujuk tanggal ditunjuknya Raden Haryo Ronggolawe sebagai Bupati Tuban oleh raja pertama Majapahit, Raden Wijaya, yakni pada 12 November 1293.
2. Pahlawan yang Dikenang
Selain menjadi bupati kedua, ternyata Ronggolawe ini merupakan pengikut setia Kerajaan Majapahit. Serta dikenal sangat besar pengaruhnya terhadap Kerajaan.
Setelah kejatuhan Kerajaan Kadiri, Raden Wijaya mendirikan Majapahit. Berdasarkan Kidung Ranggalawe, Ranggalawe diangkat sebagai bupati Tuban sebagai penghargaan atas jasanya.
Pada tahun 1292, Ranggalawe ditugaskan oleh ayahnya untuk membantu Raden Wijaya dalam upaya membuka Hutan Tarik (terletak di sebelah barat Tarik, Sidoarjo yang sekarang) dan mengubahnya menjadi sebuah desa yang kemudian dikenal sebagai Majapahit.
Nama "Ranggalawe" konon diberikan oleh Raden Wijaya, yang memiliki makna khusus terkait dengan peran Ranggalawe dalam menyediakan 70 ekor kuda dari Bima untuk keperluan perang melawan Jayakatwang, raja Kadiri.
Nama tersebut juga bisa diartikan sebagai "Rangga," yang berarti ksatria atau pegawai kerajaan, dan "Lawe," yang bisa berarti benang atau kekuasaan, mengindikasikan kemenangan atau kekuatan. Ranggalawe kemudian diberi wewenang oleh Raden Wijaya untuk memimpin pembukaan hutan tersebut.
Pada tahun 1293, pasukan gabungan Majapahit dan Mongol menyerang ibu kota Kediri. Ranggalawe berperan dalam serangan tersebut dengan memimpin pasukan yang menyerbu benteng timur kota Kadiri.
Dalam pertempuran ini, ia berhasil mengalahkan Sagara Winotan, pemimpin benteng yang mempertahankan kota tersebut.
Namun, prasasti Kudadu tahun 1294 tidak menyebutkan nama Ranggalawe, melainkan Arya Adikara dan Arya Wiraraja. Pararaton menyebut Arya Adikara sebagai nama lain Arya Wiraraja, namun prasasti Kudadu menunjukkan keduanya adalah sosok yang berbeda.
3. Legenda Perang
Mengutip beberapa sumber, Ronggolawe ini merupakan panglima angkatan perang. Salah satu kisah peperangan yang dialami Ronggolawe saat melawan Kebo Anabrang.
Senopati Majapahit itu akhirnya terlibat pertempuran dengan beberapa senopati lainnya di Tambak Beras, hingga akhirnya menewaskan Ronggolawe.
Cerita dalam Pararaton menceritakan tentang pemberontakan Ronggolawe terhadap Kerajaan Majapahit. Dipicu oleh hasutan seorang pejabat jahat bernama Mahapati. Kisah ini lebih detail dijelaskan dalam Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe.
Konflik ini bermula dari ketidakpuasan Ronggolawe terhadap pengangkatan Nambi sebagai rakryan patih. Menurut Ronggolawe, jabatan tersebut seharusnya diberikan kepada Lembu Sora, yang dianggapnya lebih layak karena jasa-jasanya dalam perjuangan.
Ronggolawe, yang dikenal berani dan emosional, menghadap Raden Wijaya di ibu kota dan menuntut agar Nambi digantikan oleh Sora.
Namun, Sora menolak tuntutan tersebut dan tetap mendukung Nambi sebagai patih.
Karena tuntutannya tidak dipenuhi, Ronggolawe mulai membuat keributan di halaman istana.
Sora, yang juga merupakan keponakannya, mencoba menasihati Ranggalawe untuk meminta maaf kepada raja. Namun, Ranggalawe memilih untuk pulang ke Tuban.
Mahapati, dengan niat jahat, melaporkan kepada Nambi bahwa Ronggolawe sedang merencanakan pemberontakan di Tuban.
Berdasarkan laporan tersebut, Nambi mendapat izin dari raja untuk memimpin pasukan Majapahit dalam menghukum Ronggalawe, didampingi oleh Lembu Sora dan Kebo Anabrang.
Setibanya pasukan Majapahit, Ronggolawe segera mengorganisir pertahanan dan menghadang mereka di dekat Sungai Tambak Beras.
Terjadilah pertempuran sengit di sana. Ronggolawe berhadapan langsung dengan Kebo Anabrang di dalam sungai, dan Kebo Anabrang, yang memiliki keahlian berenang, akhirnya berhasil membunuh Ranggalawe dengan cara yang brutal.
Melihat keponakannya disiksa hingga mati, Lembu Sora merasa sangat terpukul dan tidak tahan. Dalam kemarahannya, ia membunuh Kebo Anabrang dari belakang. Pembunuhan ini kemudian menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kematian Sora pada tahun 1300.
Yah, kisah-kisah heroik dari Ronggolawe cukup banyak di temukan. Pun beliau juga terkenal sebagai sosok yang gagah, pemberani, setia, serta menginspirasi banyak orang.
Oleh karena itu, beliau diberikan penghormatan sebagai bupati pertama, juga namanya selalu dikenang sebagai pahlawan dari kota Tuban.
Karena alasan itu, nama Ronggolawe tidak bisa dilepaskan dari Tuban. Begitu pula sebaliknya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama