RADARTUBAN - Sudah tahu belum kalau di Tuban ada makam Sunan Kalijaga? Yaps, makam ini tersembunyi di tengah-tengah sawah. Tepatnya di Dusun Soko, Desa Medalem, Kecamatan Senori, Tuban.
Penduduk sekitar sering menyebutnya sebagai "Makam Sunan Kalijaga Moroteko" atau juga dikenal sebagai "Raden Sahid Moroteko." Beberapa orang menyebutnya sebagai makam Ploso Medalem.
Makam ini mulai ramai sejak diziarahi oleh KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur. Beliau mengatakan jika makam Sunan Kalijaga yang asli ada di Tuban, bukan di Kadilangu, Demak, Jawa Tengah.
Menurut Gus Dur, Kadilangu merupakan "kantor" Sunan Kalijaga. Sementara makam sejatinya ada di Tuban.
Yah, tentu pernyataan ini menimbulkan pro dan kontra oleh banyak orang. Tapi, semakin ke sini, makam ini makin ramai saja oleh pengunjung yang penasaran dan ingin berziarah.
Ketika Gus Dur menjadi presiden pada tahun 1999, makam ini mulai dibuka secara resmi dan sedikit demi sedikit direnovasi.
Kemudian di tahun 2021, dilakukan renovasi secara besar-besaran oleh pemerintah desa setempat yang bekerja sama dengan pengusaha asal Banten.
Akhirnya, makam Sunan Kalijaga di Tuban pun menjadi lebih layak dikunjungi dan diziarahi oleh pengunjung.
Perlu diketahui, dalam cerita penemuan makam ini, konon pak Mulyadi pernah didatangi sosok serba hitam dalam sebuah mimpi. Sosok tersebut mengatakan jika ingin hidupnya menjadi lebih baik, maka rawatlah makam Sunan Kalijaga di Tuban tersebut.
Mulyadi pun akhirnya memutuskan merawat dan rutin menziarahi makam tersebut setiap malam setelah Salat Isya.
Karena masih ada kegundahan, Mulyadi akhirnya sowan ke Kyai Jubaidi Tuban, yang akhirnya beliau menanyakan lebih lanjut ke Kyai Hamid Pasuruan.
Yang kemudian oleh Kyai Hamid di tirakati. Beliau berdiam diri di makam tersebut selama satu minggu. Selepas itu, beliau mengatakan jika makam tersebut memang benar merupakan makam Sunan Kalijaga.
Yah, terlepas dari perdebatan benar-salah lokasi makam tersebut, Sunan Kalijaga tetap dihormati sebagai salah satu wali besar yang berjasa dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.
Makamnya—di manapun itu berada—tetap menjadi tempat ziarah yang perlu dihormati dan didoakan oleh kalangan muslim yang memercayainya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama