Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Data Indeks Ketimpangan Gender Tuban: Diska Tinggi, Angka Reproduksi Membaik, tapi Kualitas Pendidikan dan Angkatan Kerja Turun

Shafa Dina Hayuning Mentari • Rabu, 14 Mei 2025 | 02:11 WIB

 

Data dispensasi nikah Tuban yang masih tinggi.
Data dispensasi nikah Tuban yang masih tinggi.

TUBAN – Kasus pernikahan dini (diska) di Kabupaten Tuban terbilang masih tinggi.

Selama 2024 lalu, misalnya, lebih dari 300 anak mengajukan permohonan diska di Pengadilan Agama (PA) Tuban.

Pun tahun ini, juga terbilang masih tinggi.

Setiap bulan, lebih dari 20 anak kawin muda. Dan mirisnya, rata-rata karena sudah hamil duluan.

Namun di sisi lain, indeks ketimpangan gender (IKG) Kabupaten Tuban menunjukkan tren penurunan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, IKG di Kota Legen pada 2024 berada di angka 0,213.

Turun 0,146 poin dibandingkan 2023 yang tercatat sebesar 0,359 poin.

Sebagaimana diketahui, IKG merupakan indikator dalam mengukur ketimpangan gender di setiap daerah.

Adapun aspek IKG itu meliputi reproduksi, pemberdayaan, dan partisipasi ekonomi.

‘’Semakin rendah nilai IKG suatu daerah, maka semakin setara antara perempun dan laki-laki,’’ kata Statistisi Ahli Muda BPS Tuban Triana Pujilestari.

Dijelaskan Triana, dimensi kesehatan reproduksi dibagi ke dalam dua jenis, yakni perempuan yang pertama kali melahirkan sebelum usia 20 tahun berada di angka 0,256 pada 2023 menjadi 0,251 di 2024.

Lalu, perempuan yang melahirkan tidak di fasilitas kesehatan dari yang semula 0,027 pada 2023 menjadi 0,002 di 2024.

Begitu pula dengan dimensi pemberdayaan juga terbagi dalam dua jenis.

Yakni presentase anggota legislatif yang sebelumnya 14 persen dari keseluruhan anggota, kini menjadi 22 persen anggotanya merupakan perempuan.

Sedangkan, anggota legislatif laki-laki pada 2023 sebanyak 86 persen, kini menjadi 78 persen di tahun 2024.

Dari dua aspek tersebut, poin IKG menunjukkan perbaikan. Namun, dari sisi pendidikan mengalami penrunan kuantitas.

Dari sebelumnya 24,12 persen perempuan berpendidikan minimal SMA, turun menjadi 23,34 persen pada 2024.

Sementara laki-laki menunjukkan peningkatan. Dari sebelumnya 29,21 persen menjadi 33,11 persen.

Pun demikian pada aspek pasar tenaga kerja, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan juga mengalami penurunan.

Dari yang semula 61,32 persen menjadi 59,41 persen di 2024. Sementara TPAK laki-laki dari semula 88,35 persen pada 2023 mengalami peningkatan 1,57 persen menjadi 89,92 persen pada 2024.

Triana menjelaskan, di antara faktor yang memicu penurunan kualitas pendidikan perempuan di Tuban adalah pergaulan bebas dan ekonomi.

‘’Jadi, selama 2024 lalu banyak anak perempuan yang putus sekolah karena pergaulan bebas dan faktor ekonomi,’’ jelasnya.

Dan lantaran banyak perempuan yang memutuskan menjadi ibu rumah tanggal di usia muda karena faktor pergaulan bebas yang semakin tidak terkendali, maka banyak perempuan yang tidak masuk angkatan kerja.

Kendati masih menyisakan persoalan dalam aspek pendidikan dan angkatan kerja perempuan. Namun, secara akumulatif, IKG di Tuban menunjukkan angka perbaikan.

‘’Penilaian IKG ini menggunakan skala 0 sampai 1. Sehingga, di Tuban yang saat ini angka IKG-nya berada di 0,213 sudah jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Meski begitu, angka ini masih berpotensi bisa mengalami kenaikan atau penurunan lagi,’’ tandasnya. (saf/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#pengadilan #Tuban #bps #reproduksi #diska #kawin muda #dispensasi nikah