Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kisah Haru Sunaini dari Indramayu, Anaknya Dihina Kaki Katak oleh Tetangga

Jeny Tri Kurnia Putri • Kamis, 12 Maret 2026 | 10:00 WIB

Sunaini menangis mengenang hinaan terhadap putranya
Sunaini menangis mengenang hinaan terhadap putranya

RADARTUBAN – Ketegaran seorang ibu kembali diuji oleh kerasnya stigma sosial. Sunaini (27), seorang ibu muda asal Indramayu, harus menghadapi kenyataan pahit saat buah hatinya, Muhammad Rian Alfatih (3), lahir dengan kondisi fisik yang tidak sempurna.

Alih-alih mendapat dukungan, Sunaini justru harus menghadapi berbagai hinaan dari lingkungan sekitar.

Kisah haru tersebut diungkapkan Sunaini dalam perbincangan emosional di kanal YouTube milik Sara Wijayanto.

Dihina Sejak Anak Berusia Satu Tahun

Dalam cerita yang disampaikannya, Sunaini mengungkap bahwa putranya lahir dengan kondisi paha dan betis yang menyatu sehingga membuat Rian lebih banyak beraktivitas dalam posisi berbaring.

Baca Juga: Sara Wijayanto Buka Rahasia Ritual Keluarganya, Dapat Pesan Politik dari Dunia Gaib

Namun, yang paling menyakitkan baginya bukanlah kondisi fisik sang anak, melainkan komentar kejam dari sebagian orang di sekitarnya.

“Banyak yang hina, Bu. Banyak yang menghina, kenapa dihidupin lagi? Kenapa enggak dimatiin aja?” ujar Sunaini dengan suara bergetar menahan tangis.

Ucapan tersebut bahkan sudah ia dengar sejak Rian berusia satu tahun. Sebagian warga juga menjuluki putranya dengan sebutan “kaki katak” karena kondisi kaki Rian yang terlipat dan menempel.

Sempat Menutup Diri

Hinaan yang terus berdatangan membuat Sunaini sempat memilih untuk menutup diri dan jarang keluar rumah.

Rasa sedih semakin terasa ketika ia melihat anak-anak lain seusia Rian sudah dapat berjalan dan bermain dengan bebas.

Meski demikian, Sunaini berusaha tetap tegar dan membela anaknya dari ucapan-ucapan menyakitkan tersebut.

“Bagaimanapun ini kan tetap anak saya. Sudah dikasihnya sama Allah, gimana lagi? Harus gimana lagi?” katanya tegas.

Menunggu Operasi Demi Masa Depan Rian

Secara medis, Rian diketahui membutuhkan tindakan operasi, terutama untuk menangani benjolan yang terdapat pada tulang belakangnya.

Namun tindakan tersebut masih harus menunggu hingga berat badan Rian mencapai minimal 10 kilogram. Saat ini, bobot tubuhnya masih sekitar 7,8 kilogram, yang membuat proses operasi belum dapat dilakukan.

Di tengah keterbatasan ekonomi—di mana suaminya bekerja sebagai petugas kebersihan sekaligus pencari botol bekas—Sunaini tetap menyimpan harapan besar untuk masa depan anaknya.

“Semoga kelak nanti jadi anak yang saleh, pintar, nurut sama orang tua. Kasihan sama Rian Bu, anak-anak yang lain bisa jalan, anak saya belum bisa jalan,” ungkapnya sambil memeluk putranya.

Kisah Sunaini menjadi pengingat bahwa di balik keterbatasan dan stigma, cinta seorang ibu tetap menjadi kekuatan terbesar bagi masa depan anaknya. (*) 

 
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#kaki katak #sara wijayanto #indramayu