Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

15 Tahun Arab Spring di Mesir: Antara Stabilitas Politik dan Krisis Ekonomi

I
Penulis: Ika Nur Jannah❯
Ilustrasi Mesir.
Ilustrasi Mesir.

RADARTUBAN – Tepat 15 tahun lalu, Mesir diguncang gelombang besar demonstrasi rakyat yang memuncak pada pengunduran diri Presiden Hosni Mubarak pada 2011.


Advertisement

Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dari Arab Spring, rangkaian pemberontakan di dunia Arab yang dipicu kemiskinan, ketimpangan sosial, dan stagnasi politik.

Satu setengah dekade berlalu, Arab Spring meninggalkan warisan yang campur aduk, terutama di negara-negara dengan jumlah penduduk yang terus melonjak, termasuk Mesir.

Populasi negeri itu meningkat drastis dari sekitar 83 juta jiwa menjadi hampir 120 juta penduduk, atau bertambah sekitar 37 juta orang dalam 15 tahun terakhir.

Secara ekonomi, Mesir mencatat sejumlah kemajuan. Tingkat kemiskinan nasional tercatat turun menjadi 6,4 persen.

Namun, tantangan masih membayangi kelompok muda usia 15–29 tahun, dengan tingkat kemiskinan mencapai 14 persen. Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita juga meningkat dari 2.590 dolar AS menjadi 3.339 dolar AS.

Advertisement

Nilai tukar dolar AS terhadap pound Mesir kini relatif stabil di kisaran 47 pound. Meski demikian, daya beli masyarakat tetap tertekan akibat inflasi yang tinggi dan dampak krisis regional.

Pemerintahan Presiden Abdel Fattah al-Sisi memprioritaskan stabilitas politik dan keamanan, namun tekanan eksternal, termasuk konflik Gaza dan penurunan pendapatan Terusan Suez, turut memperberat kondisi ekonomi nasional.

Harapan Arab Spring untuk menghadirkan demokrasi penuh di Mesir gagal terwujud.

Kudeta militer pada 2013 yang menggulingkan Presiden Mohamed Morsi menandai berakhirnya pemerintahan sipil singkat pasca-revolusi dan memperkuat kembali dominasi militer dalam panggung politik nasional.

Saat ini, Mesir masih bergulat dengan krisis ekonomi pasca-revolusi, di mana militer memegang peran sentral dalam pemerintahan di tengah tuntutan reformasi dari berbagai kalangan masyarakat.

Di kancah regional, Mesir memainkan peran aktif dalam isu Gaza.

Pemerintah Kairo mendorong Israel untuk mundur dan membuka kembali perbatasan Rafah guna mendukung proses rekonstruksi, sejalan dengan kesepakatan gencatan senjata yang berlaku.

Peran tersebut menegaskan posisi Mesir sebagai salah satu penstabil kawasan Timur Tengah.

Namun di dalam negeri, tantangan besar masih menanti, mulai dari tekanan ekonomi, tingginya pengangguran pemuda, hingga ledakan jumlah penduduk yang terus membebani kapasitas negara. (*)

Advertisement
Editor : Yudha Satria Aditama
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar TubanIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Firdian Aurelio Soroti Kemiskinan dan Keadilan Antargenerasi, Berpengaruh pada Kehidupan Sehari-Hari

Firdian Aurelio Soroti Kemiskinan dan Keadilan Antargenerasi, Berpengaruh pada Kehidupan Sehari-Hari

Kerusakan lingkungan dan kebijakan publik turut menentukan masa depan generasi mendatang. Simak pandangan aktivis muda Firdian Aurelio.

Apa-apa Serba Mahal, Downgrade Lifestyle Jadi Pilihan

Apa-apa Serba Mahal, Downgrade Lifestyle Jadi Pilihan

Di tengah gempuran inflasi dan lonjakan harga, downgrade lifestyle jadi pilihan realistis. Kenali penyebab pergeseran gaya hidup ini dan strategi cerdas mengelola keuangan agar tetap stabil.

Jumlah Orang Super Kaya di Indonesia Diprediksi Naik 82 Persen pada 2031, Ini Strategi Investasinya

Jumlah Orang Super Kaya di Indonesia Diprediksi Naik 82 Persen pada 2031, Ini Strategi Investasinya

Jumlah orang super kaya di Indonesia diproyeksikan naik 82 persen pada 2031. Simak strategi membangun kekayaan dan investasi jangka panjang.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer