RADARTUBAN - Penyakit gastroesophageal reflux disease (GERD) sering dianggap sekadar masalah naiknya asam lambung, padahal faktor emosional seperti stres dan kecemasan justru memperburuk gejalanya.
Dokter spesialis penyakit dalam menegaskan hubungan timbal balik antara kondisi mental dan gangguan pencernaan ini.
Dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD, mengamati bahwa sekitar 80 persen pasien GERD yang ditelitinya juga mengalami kecemasan.
Saat stres menyerang, tubuh melepaskan hormon yang mengganggu sistem pencernaan, termasuk meningkatkan produksi asam lambung melalui brain-gut axis.
Gejala seperti heartburn pun kian parah, sementara keluhan GERD sendiri bisa memicu kecemasan lebih lanjut.
Fenomena ini dikenal sebagai brain-gut axis, di mana pikiran dan emosi saling memengaruhi usus. Ketika seseorang mengalami tekanan mental, fungsi saluran cerna bisa ikut terganggu.
Dalam kondisi stres, tubuh melepaskan hormon tertentu yang mengganggu fungsi lambung, sehingga asam lambung lebih mudah naik.
Pasien GERD kerap melaporkan gejala memburuk saat menghadapi deadline kerja atau masalah pribadi, menandakan perlunya pendekatan pengobatan holistik.
Pengelolaan GERD tak boleh hanya fokus obat penurun asam, tapi juga teknik relaksasi untuk kendalikan stres seperti meditasi atau olahraga ringan.
Dengan memahami pemicu emosional dan pola hidup sehat, penderita bisa kurangi kambuh dan pertahankan kualitas hidup.
Selain obat, pasien disarankan mengelola stres melalui konseling psikologis atau terapi. Perbaiki pola hidup seperti hindari rokok, alkohol, dan makan tak beraturan untuk kendalikan baik GERD maupun kondisi mental. Dengan pendekatan holistik, keluhan bisa lebih terkendali dan kualitas hidup terjaga. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama