
RADARTUBAN - Entah dengan cara apalagi kita bisa mengetuk relung hati Presiden Prabowo agar sadar bahwa MBG adalah program politik gagal yang dipaksakan.
50 ribu lebih siswa jadi korban keracunan makan bergizi gratis (MBG) hingga menyebabkan salah satu siswa SMK di Kabupaten Karo, Sumatera Utara mengalami hilang ingatan setelah beberapa hari menjalani perawatan di rumah sakit adalah persoalan yang sangat serius dan menyayat hati.
Namun, bukannya prihatin dan secepatnya mengambil langkah taktis untuk menyetop sementara program ini, Presiden dan seluruh jajarannya malah terus memoles program ini dengan berbagai dalih dan aturan anyar yang tidak logis.
Ketika persoalan dasarnya adalah fondasi tata kelola yang keropos sejak awal, solusi yang ditawarkan hanya sekadar menempel label atau stiker batas waktu konsumsi pada setiap wadah makanan atau ompreng MBG. Seakan semua akan selesai setelah ompreng ditempeli batas “kadaluarsa”.
Dan ketika dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) dianggap belum terstandarisasi, Badan Gizi Nasional (BGN) menambah proyek baru dengan mengusulkan anggaran sebesar Rp 373,3 miliar untuk kegiatan peningkatan kapasitas petugas penjamah makanan, memperkuat rantai pasok, serta kepastian mutu dan keamanan pangan.
Inilah gambaran pribahasa Jawa kriwikan dari grojogan. Bukannya semakin baik, efektif, dan efisien, program kacau setengah mampus ini malah terus menguras anggaran negara.
Ketika semua berani jujur dan bekerja menggunakan hati—tulus dan ikhlas mengabdi kepada negara, hanya orang munafik dan bodoh yang tidak tahu bahwa persoalan dasar dari masalah ini adalah proyek politik.
Dan sepanjang sejarah pemerintah Indonesia, bahkan dunia, sepertinya hanya di negara ini yang pemerintahannya begitu bebal. Nasib rakyat dan jutaan anak Indonesia dipertaruhkan sebagai kelinci percobaan.
Sejak sebelum ada Indonesia hingga merdeka, baru kali ini ada puluhan ribu siswa menjadi korban keracunan dari sebuah program yang menghabiskan anggaran ratusan triliun.
Jika bukan kata munafik, kata apalagi yang paling tepat menggambarkan kebebalan pemerintah.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





