Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Berusaha Hidup Tenang di Negara yang Selalu Gaduh

Ahmad Atho'illah
Penulis: Ahmad Atho'illah❯
Ahmad Atho'illah, Kolumnis/Wartawan Jawa Pos Radar Tuban
Ahmad Atho'illah, Kolumnis/Wartawan Jawa Pos Radar Tuban

Advertisement

RADARTUBAN - Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur tenang, 

Tak perlu memikirkan tentang apa yang akan datang di esok hari,

Lirik lagu berjudul Secukupnya yang dibawakan oleh Hindia ini sangat relevan dengan kehidupan kita sebagai warga negara Indonesia (WNI). Di negara ini, kita seakan tidak pernah hidup tenang. Bahkan kita hampir lupa kapan terakhir kali pemerintah di negara ini fokus bekerja dan tidak gaduh.

Advertisement

Saking sudah terbiasanya bernegara dengan cara gaduh, kegaduhan seakan menjadi sesuatu yang harus ada. Persis seperti peribahasa bagai sayur tanpa garam. Hidup menjadi WNI seakan belum sempurna jika elit politik di negara ini tidak gaduh.

Dan seperti halnya permainan kartu, elit politik di negara ini menyimpan “kartu as” masing-masing. Satu sama lain saling mengunci, bahkan sudah mengetahui kelemahan satu sama lain.

Hanya saja, ketika belum waktunya untuk memenangkan permainan, maka “kartu penentu” tidak akan dikeluarkan. Sebab, jika sedikit saja salah langkah, atau mengeluarkan “kartu kunci” di waktu yang tidak tepat, risikonya bukan hanya kalah, tapi juga “mati”. Itulah sebabnya, kadang kompromi, kadang kala juga dibiarkan sebagai sandera.

Advertisement

Berangkat dari analogi sederhana itulah, saya sulit percaya dengan elit pemerintah di negara. Karena itu, sebesar apa pun kasus yang menggaduhkan negara ini, saya termasuk orang yang biasa saja. Dan sekalipun harus kaget, itu bukan kerana kasusnya, melainkan cara “mengeluarkan kartu” di luar prediksi.

Kasus dugaan penyadapan ilegal oleh mantan Kapolri Listyo Sigit terhadap Presiden Prabowo Subianto, misalnya. Hanya anak usia lima tahun saja yang menganggap bahwa kasus ini terungkap ke publik secara organik.

Persis seperti permainan kartu, hanya orang yang tidak pernah bermain kartu saja yang menganggap bahwa Prabowo tidak tahu bahwa dirinya disadap. Hanya saja, karena dalam politik tidak ada kawan maupun lawan abadi, sehingga masih ada kemungkinan bertemu dalam kepentingan (baca: diajak kerja sama).

Ketika orang awam menganggap bahwa penyadapan adalah ancaman bagi seseorang, namun tidak bagi mereka yang bekerja dan hidup berkepentingan di politik. Bagi mereka, ketika ancaman dari pihak eksternal bisa dikelola dengan baik, maka ancaman adalah kekuatan yang bisa dimanfaatkan sebagai peluang untuk menghantam lawan.

Advertisement
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar TubanIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Surat Terbuka untuk Mas Bupati: Selamatkan Generasi Mendatang

Surat Terbuka untuk Mas Bupati: Selamatkan Generasi Mendatang

Surat terbuka untuk Bupati Tuban Mas Lindra menyoroti pendidikan karakter anak, gaya hidup konsumtif, media sosial, dan upaya mengatasi kemiskinan.

Surat Terbuka untuk Prabowo: Anda Tidak Bisa Meniru Pak Harto dan Bung Karno, Stop Banyak Bicara

Surat Terbuka untuk Prabowo: Anda Tidak Bisa Meniru Pak Harto dan Bung Karno, Stop Banyak Bicara

Kolom opini mengulas kritik terhadap pidato, gaya kepemimpinan, dan kebijakan Prabowo, serta membandingkannya dengan Soeharto dan Bung Karno.

Surat Terbuka untuk Pak Mu’ti yang Tergesa-gesa Ingin MBG Tetap Dilanjutkan

Surat Terbuka untuk Pak Mu’ti yang Tergesa-gesa Ingin MBG Tetap Dilanjutkan

Surat terbuka ini mengkritik kebijakan MBG dan mempertanyakan prioritas pemerintah terhadap pendidikan dan kesejahteraan guru.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer