Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengapa Banyak Orang Mudah Marah ke Keluarga Tapi Ramah ke Orang Lain?

Bihan Mokodompit
Penulis: Bihan Mokodompit❯
Ilustrasi orang marah.
Ilustrasi orang marah.

RADARTUBAN - Banyak orang heran: ketika berada di luar rumah, mereka bisa sangat ramah dan sabar kepada teman atau kolega, tapi saat di rumah, mereka gampang emosi bahkan marah ke keluarga sendiri.


Advertisement

Artikel ini membahas mengapa hal itu bisa terjadi, dan bagaimana kita bisa mengenali serta mengelola kecenderungan tersebut.

Faktor “Zona Aman” Membuat Emosi Meledak

Salah satu penyebab utama adalah perasaan nyaman bersama keluarga, merasa bahwa di rumah adalah tempat paling aman untuk mengekspresikan perasaan apa pun.

Advertisement

Ketika kita merasa paling dekat dengan anggota keluarga, kita cenderung melepaskan emosi asli kita tanpa filter.

Kalau di luar rumah kita harus menjaga sikap, profesional di kerjaan, sopan dengan teman, maka di rumah kita merasa tidak perlu lagi “bertopeng”.

Akhirnya, stres, lelah, atau frustrasi yang tertahan selama di luar bisa terkumpul dan tumpah saat di rumah.

Advertisement

Ekspektasi Tinggi pada Keluarga Menjadi Pemicu

Selain rasa nyaman, ekspektasi terhadap keluarga juga memainkan peran besar.

Saat kita berharap keluarga, misalnya adik, pasangan, atau orang tua, “berperilaku sesuai harapan”, kita mudah kecewa jika harapan itu meleset.

Kekecewaan itulah yang memicu kemarahan lebih cepat.

Menariknya: ketika kita bersama orang di luar keluarga, teman atau orang baru, ekspektasinya cenderung lebih rendah, sehingga kita bisa lebih sabar dan pengertian.

Stres, Tekanan, dan Kesibukan Eksternal

Kemarahaan terhadap orang terdekat kadang bukan soal mereka, tapi akumulasi stres dari pekerjaan, kehidupan sosial, masalah keuangan, kurang tidur, atau tekanan lain.

Keadaan ini membuat seseorang lebih rentan “meledak” emosinya ketika sudah sampai di rumah.

Dalam situasi demikian, rumah malah jadi “pelampiasan” emosi, ketika orang merasa bahwa keluarganya akan memahami atau memaafkan meski emosinya “bocor”.

Trauma, Pola Komunikasi, dan Kebiasaan

Tak jarang, kemarahan ke keluarga dipicu oleh faktor masa lalu atau pola asuh keluarga yang tidak sehat.

Jika sejak kecil terbiasa melihat konflik atau ketidakharmonisan, seseorang bisa menginternalisasi bahwa “marah dulu baru didengar”.

Selain itu, jika komunikasi dalam keluarga kurang sehat, misalnya tidak ada yang  saling mendengarkan, saling memahami, maka sedikit saja stres bisa memicu ledakan emosi.

Mengapa Kemarahan Itu Sulit Dikendalikan Tapi Bisa Diubah?

Fakta bahwa seseorang bisa sangat sabar di luar dan gampang marah di rumah menunjukkan bahwa bagian dari kemarahan itu bukan soal orang lain, melainkan soal kondisi emosional internal.

Beberapa poin penting:

• Kemarahan bisa menjadi cara “pelampiasan” terhadap stres atau kelelahan ketika orang merasa “aman” di rumah, mereka menurunkan kontrol.

• Harapan tinggi terhadap keluarga kadang tidak realistis yang akhirnya memancing kekecewaan dan kemarahan.

• Komunikasi dalam keluarga bisa memburuk jika tidak dibarengi empati dan saling mendengarkan.

Namun, kemarahan bukan sesuatu yang harus dibiarkan.

Dalam literatur psikologi dikatakan bahwa ada beberapa tipe ekspresi marah, dari pasif-agresif, agresif-terbuka, sampai cara yang sehat, yaitu asertif.

Orang yang mampu mengekspresikan perasaan dengan jujur dan tepat, sambil menghormati hak-hak orang lain, jauh lebih bisa menjaga hubungan baik dan kesehatan emosional.

Cara Mengelola Emosi Agar Tak Meledak ke Keluarga

Berikut beberapa langkah praktis untuk mengelola emosi dan menghindari kemarahan yang tidak perlu di rumah:

• Sadari terlebih dahulu stres dan beban emosional sebelum pulang, misalnya setelah hari kerja yang berat.

Kalau perlu istirahat dulu agar tidak “ikut pulang”.

• Atur ekspektasi, ingat bahwa setiap orang punya batasannya.

Jangan terlalu berharap sempurna dari keluarga.

• Bangun komunikasi sehat di keluarga: dengarkan, saling menghargai, dan berempati satu sama lain.

• Ekspresikan emosi secara asertif: katakan apa yang kamu rasakan tanpa menyalahkan orang lain, gunakan kalimat “saya merasa…” ketimbang “kamu selalu…”.

• Kelola stres dengan baik: cukup tidur, istirahat, olahraga ringan, atau lakukan hobi untuk melepaskan tekanan.

Fenomena “mudah marah ke keluarga, tapi ramah ke orang lain” bukan tanpa alasan.

Banyak faktor, dari rasa nyaman, ekspektasi, stres, hingga pola komunikasi, berperan di baliknya.

Memahami penyebabnya penting agar kita bisa mengelola emosi dengan sehat dan menjaga keharmonisan keluarga.

Dengan kesadaran dan komunikasi yang baik, kita bisa mengubah kebiasaan negatif itu demi hubungan yang lebih harmonis dan penuh respek. (*/lia)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar TubanIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Psikolog Ungkap Alasan Seseorang Ramah di Luar Tapi Emosional di Rumah, Ternyata Berawal dari Pola Asuh

Psikolog Ungkap Alasan Seseorang Ramah di Luar Tapi Emosional di Rumah, Ternyata Berawal dari Pola Asuh

Mengapa seseorang ramah di luar tetapi emosional di rumah? Psikolog menjelaskan kaitannya dengan pola asuh, trauma masa kecil, dan luka batin.

Kisah Dokter Erwin Era Prasetya: Mengabdi dengan Hati, Merawat dengan Empati

Kisah Dokter Erwin Era Prasetya: Mengabdi dengan Hati, Merawat dengan Empati

Mengenal lebih dekat dr. Erwin Era Prasetya, pendiri Klinik Keluarga Era Sehat dan Paguyuban Era Gendis. Perjalanan mengabdi di dunia medis dengan mengutamakan empati, komunikasi, serta keteladanan gaya hidup aktif.

Diet Tak Cukup Kurangi Porsi, Roy Irawan Ungkap Pentingnya Pola Pikir dan Identitas Diri

Diet Tak Cukup Kurangi Porsi, Roy Irawan Ungkap Pentingnya Pola Pikir dan Identitas Diri

Sering gagal diet? Roy Irawan membahas pentingnya pola pikir, nutrisi, komposisi, dan identitas diri untuk hidup lebih sehat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer