Ungkap Makna Pertemanan : Bukan Soal Status tapi Mampu Lewati Susah Bersama

RADARTUBAN – Pertemanan tidak hanya ditentukan oleh kesamaan sekolah, lingkungan, atau status sosial. Yasir Farli menilai hubungan pertemanan menjadi lebih kuat ketika terdapat koneksi emosional dan pengalaman yang dijalani bersama.
Hal tersebut disampaikan Yasir Farli dalam podcast Suara Berkelas bersama Bilal. Dia menjelaskan bahwa seseorang tidak otomatis menjadi teman hanya karena berada dalam lingkungan pendidikan atau pergaulan yang sama.
“Teman itu tuh bukan status sosial lu dari SMA mana, kuliah yang sama. Bukan itu teman. Teman tuh status emosional,” ujar Yasir Farli.
Menurutnya, hubungan pertemanan terbentuk ketika seseorang mampu terhubung secara emosional dengan orang lain. Kedekatan tersebut tidak hanya terlihat saat berada dalam kondisi menyenangkan, tetapi juga ketika menghadapi berbagai keadaan yang sulit.
“Yang membuat kita menjadi teman itu adalah di saat dua orang atau lebih, sekumpulan orang atau lebih bisa melalui kesusahan bersama-sama. Baru itu jadi teman,” katanya.
Yasir menjelaskan, pengalaman melewati kesulitan bersama dapat menjadi bagian penting dalam membentuk kedekatan. Ketika menghadapi masalah, seseorang dapat melihat bagaimana temannya bersikap, mengambil keputusan, serta memberikan dukungan dalam situasi yang tidak mudah.
Menurut dia, proses tersebut juga membuat seseorang semakin mengenal karakter orang lain.
Pertemanan yang awalnya terbentuk karena sering bertemu dapat berkembang menjadi hubungan yang lebih dekat setelah melewati berbagai pengalaman bersama.
Kegiatan seperti bepergian, mendaki gunung, maupun mengerjakan sebuah proyek dapat menjadi kesempatan untuk membangun pengalaman tersebut.
Dalam kegiatan bersama, seseorang dapat melihat cara temannya menghadapi masalah, bekerja sama, dan memberikan kontribusi.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




