RADARTUBAN – Di era digital saat ini, ponsel telah menjadi bagian yang hampir tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Notifikasi pesan, panggilan, email, hingga media sosial terus berdatangan tanpa henti setiap harinya.
Namun, ada sebagian orang yang memilih jalan berbeda. Mereka sengaja mematikan suara ponselnya selama 24 jam penuh, bahkan untuk keluarga sekalipun. Bagi sebagian orang, kebiasaan ini mungkin terlihat aneh, tidak peduli, atau terkesan dingin.
Padahal, dari sudut pandang psikologi, kebiasaan tersebut justru sering berkaitan dengan pola kepribadian tertentu yang cukup menarik dan kompleks.
Ini bukan semata-mata soal tidak suka diganggu, tetapi tentang cara seseorang memandang hidup, hubungan sosial, serta batasan pribadi.
Dilansir dari Geediting pada Selasa (3/2), terdapat delapan ciri kepribadian yang umumnya dimiliki oleh orang yang selalu mematikan suara ponselnya menurut perspektif psikologi.
1. Sangat Menjaga Batasan Pribadi
Mereka memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya batasan pribadi. Mematikan suara ponsel menjadi cara untuk mengatur siapa yang boleh mengakses waktu dan energi mereka.
Dalam psikologi, hal ini menunjukkan kemampuan self-boundary regulation yang baik.
2. Lebih Fokus pada Kehidupan Nyata
Orang dengan kebiasaan ini biasanya lebih menikmati interaksi langsung, aktivitas offline, dan pengalaman nyata. Mereka tidak ingin hidupnya dikendalikan oleh notifikasi.
Psikologi menyebutnya sebagai present-moment orientation, yaitu fokus pada momen saat ini.
3. Mandiri Secara Emosional
Mereka tidak bergantung pada validasi sosial dari pesan, telepon, atau notifikasi.
Ciri ini menunjukkan emotional independence dan kemampuan menenangkan diri sendiri tanpa membutuhkan perhatian terus-menerus.
4. Cenderung Introvert atau Ambivert Reflektif
Bukan berarti antisosial, tetapi mereka mudah lelah dengan stimulasi sosial yang berlebihan. Mereka membutuhkan ruang hening dan waktu sendiri untuk memulihkan energi.
5. Kontrol Diri yang Tinggi
Mematikan suara ponsel sepanjang waktu menunjukkan disiplin dan kemampuan menunda respon.
Mereka tidak merasa harus segera membalas pesan atau mengangkat telepon, yang dalam psikologi berkaitan dengan self-regulation yang kuat.
6. Tidak Suka Hidup dalam Tekanan Sosial
Bagi mereka, bunyi notifikasi bisa terasa seperti tuntutan atau beban mental. Dengan mematikan suara ponsel, mereka mengurangi tekanan sosial dan cognitive overload, sebagai bentuk perlindungan kesehatan mental.
7. Lebih Selektif dalam Relasi
Mereka tidak ingin selalu tersedia untuk semua orang. Hubungan yang dijaga cenderung lebih dalam, bukan sekadar banyak secara jumlah. Dalam psikologi relasi, ini dikenal sebagai orientasi quality over quantity.
8. Memiliki Nilai Hidup yang Berbasis Ketenangan
Orang seperti ini biasanya mencari ketentraman, kesunyian, stabilitas emosi, serta ritme hidup yang lebih lambat.
Mereka tidak nyaman dengan kehidupan yang terlalu bising, baik secara mental maupun digital.
Mematikan suara ponsel selama 24 jam, bahkan untuk keluarga, bukan selalu berarti tidak peduli.
Dalam banyak kasus, kebiasaan ini justru menunjukkan kesadaran diri yang tinggi, kontrol emosi yang baik, serta prioritas hidup yang jelas.
Mereka hanya memilih hidup dengan lebih sadar, lebih tenang, dan tidak reaktif terhadap notifikasi.
Di tengah dunia yang serba cepat dan bising secara digital, ketenangan justru menjadi bentuk kekuatan, bukan kelemahan.
Jika Anda atau orang terdekat memiliki kebiasaan ini, mungkin itu bukan masalah komunikasi, melainkan gaya hidup dan struktur kepribadian yang berbeda. Karena tidak semua orang diciptakan untuk hidup dalam kebisingan digital—sebagian memang lebih nyaman dalam ketenangan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni