RADARTUBAN – Di era saat semua orang seolah berlomba memamerkan "etalase" hidupnya, keberadaan akun media sosial yang sunyi sering kali memancing tanya.
Akun yang jarang mengunggah status, minim dokumentasi liburan, hingga foto profil yang tak berganti bertahun-tahun seringkali dilabeli sebagai hidup yang membosankan.
Namun, siapa sangka, di balik senyapnya linimasa itu tersimpan kestabilan mental yang justru lebih tangguh.
Keheningan di Dunia Maya Tanda Kestabilan Mental
Dari sudut pandang psikologis, individu yang memilih "keheningan" di dunia maya bukanlah mereka yang tidak memiliki kisah menarik untuk diceritakan.
Sebaliknya, mereka seringkali merupakan orang-orang yang telah menemukan kedamaian dengan dirinya sendiri.
Mereka tidak lagi memerlukan gemuruh notifikasi "like" atau pengakuan dari publik untuk merasa memiliki nilai diri. Fenomena ini dikenal sebagai rendahnya tingkat self-monitoring.
Fokus pada Kualitas Pengalaman, Bukan Panggung Digital
Mereka lebih mengutamakan kualitas pengalaman saat menjalani suatu momen, daripada disibukkan dengan pencarian sudut pengambilan gambar (angle) terbaik agar tampak menarik di mata orang lain.
Bagi mereka, kenikmatan secangkir kopi atau kehangatan percakapan dengan sahabat di dunia nyata terlalu bernilai apabila harus terganggu hanya demi sebuah konten.
"Kebahagiaan yang autentik tidak memerlukan panggung. Mereka yang jarang memperbarui status justru memiliki sumber kebahagiaan dari dalam diri yang stabil, bukan kebahagiaan yang bergantung pada seberapa banyak orang yang menyaksikan kehidupan mereka," demikian tertulis dalam ulasan dari chanel psikologi Kepribadian Tersembunyi.
Keputusan Sunyi sebagai Bentuk Kecerdasan Digital
Tidak hanya berkaitan dengan kematangan emosional, keputusan untuk tidak menampilkan kehidupan secara terbuka juga merupakan bentuk kecerdasan digital.
Dengan menjaga kerahasiaan pribadi, mereka secara otomatis melindungi diri dari penyakit jiwa seperti iri dengki atau penilaian negatif dari orang lain yang dapat merusak berkah momen tersebut.
Strategi ini juga efektif menghindarkan mereka dari beban sosial yang tidak perlu, seperti kemunculan "teman lama" yang tiba-tiba hadir hanya ketika melihat kita sedang berada di puncak keberhasilan.
Baca Juga: Kapan THR PNS Cair? Menkeu Sebut Tunggu Keputusan Presiden Prabowo Usai Kunjungan Luar Negeri
Keheningan Medsos Adalah Tanda Kehidupan Nyata
Pada akhirnya, keheningan akun media sosial seseorang seringkali menjadi pertanda bahwa mereka sedang benar-benar "hidup". Mereka lebih memilih menyimpan kenangan dalam ingatan daripada menyimpannya di server media sosial.
Sebuah pengingat bagi kita semua, bahwa terkadang momen paling indah adalah momen yang tidak perlu diceritakan kepada dunia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni