Pernyataan tersebut disampaikan Bakri kepada Jawa Pos Radar Tuban yang menemuinya di pangkalan area sekitar kantor Kecamatan Jatirogo kemarin (15/5).
Menurut Bakri, idealnya Terminal Jatirogo berlokasi di tepi jalan raya Jatirogo—Sale atau area sekitar kantor Kecamatan Jatirogo yang merupakan jalur vital sekaligus pusat keramaian. Bukan di jalan raya Jatirogo—Bulu.
Karena terminal tempatnya tidak strategis, lanjut dia, dirinya dan pengemudi bus lain memilih mangkal di simpang jalan raya Jatirogo—Sale dan Jatirogo—Bulu.
‘’Tempat ini lebih dekat dengan keramaian. Lebih enak dijangkau bus dan penumpang,’’ tutur warga Desa/Kecamatan Trucuk, Bojonegoro itu.
Alasan pengemudi bus mangkal di luar terminal dimaklumi Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Terminal Jatirogo Karnoto. Dia mengakui lokasi Terminal Jatirogo kurang strategis.
Namun demikian, kata dia, sepinya terminal bukan sepenuhnya dipicu tidak strategisnya lokasi Terminal Jatirogo. Karnoto mengungkapkan, sebelum 2015, Terminal Jatirogo selalu ramai disinggahi bus dan penumpang.
Kalaupun sekarang sepi, menurut dia, lebih dominan dipicu banyaknya masyarakat yang memiliki kendaraan pribadi. Hal ini mengakibatkan kebutuhan terhadap transportasi umum turun, bahkan merosot jauh.
Pria yang pernah berdinas di kantor Kecamatan Kenduruan itu mengatakan, pernah muncul wacana memindahkan terminal di lahan milik Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Pemerintah Provinsi Jawa Timur di tepi jalan raya Jatirogo—Sale. Tepatnya di barat kantor Perhutani KPH Jatirogo. Lahan tersebut kosong tak terpakai.
‘’Mungkin, kalau serius di-tembung, dapat digunakan dan Terminal Jatirogo bisa lebih ramai jika lokasinya di situ,’’ pungkasnya. (sab/ds)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Tuban, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Tuban”. Caranya klik link join telegramradartuban. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Amin Fauzie