Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Asal Usul Kuyang: Makhluk Kepala Terbang yang Mencari Korban di Malam Hari

Mohamad Anas Ali Wafa • Minggu, 15 Juni 2025 | 23:00 WIB
Mitos kuyang tak hanya menghantui masyarakat lokal, tetapi juga tersebar dalam budaya populer.
Mitos kuyang tak hanya menghantui masyarakat lokal, tetapi juga tersebar dalam budaya populer.

RADARTUBAN - Di tengah banyaknya cerita mistis yang beredar di Indonesia, salah satu legenda urban yang paling menyeramkan dan dikenal luas adalah kisah tentang Kuyang.

Cerita mengenai makhluk gaib ini begitu melekat dalam budaya masyarakat, terutama di wilayah Kalimantan, dan kerap membuat bulu kuduk merinding.

Kuyang dikenal sebagai sosok makhluk mistis berwujud kepala manusia dengan organ-organ tubuh seperti jantung, hati, dan usus yang menggantung di bawahnya. 

Dia dipercaya bisa terbang di malam hari untuk mencari korban, khususnya perempuan hamil dan bayi yang baru lahir.

Tak hanya sebagai cerita rakyat, kehadiran Kuyang bahkan dianggap nyata dan menjadi sesuatu yang patut diwaspadai oleh masyarakat.

Asal-Usul dan Praktik Ilmu Hitam

Dalam kepercayaan lokal, Kuyang bukanlah makhluk yang berasal dari alam lain, melainkan manusia biasa tepatnya seorang perempuan yang mempelajari ilmu hitam tertentu.

Ilmu ini diyakini memberikan kekuatan supranatural, termasuk umur panjang hingga keabadian.

Namun, untuk memperoleh kemampuan tersebut, pelakunya harus membayar harga mahal: mencari darah bayi atau janin manusia sebagai bentuk tumbal.

Perempuan yang menjalani ritual ilmu hitam ini dipercaya dapat memisahkan kepalanya dari tubuh, lengkap dengan organ dalam, lalu terbang di malam hari untuk menghisap darah korbannya.

Itulah sebabnya, masyarakat yang percaya akan legenda ini, khususnya para ibu hamil, selalu berada dalam kewaspadaan tinggi.

Tindakan Perlindungan dan Ritual Tradisional

Sebagai bentuk perlindungan dari ancaman Kuyang, masyarakat mengembangkan berbagai metode ritual dan penggunaan benda-benda tertentu yang dipercaya dapat menangkal kehadiran makhluk ini.

Di antaranya adalah menaburkan garam, menggantungkan bawang putih, meletakkan tali ijuk, atau memasang kain kuning di sudut-sudut rumah.

Semua benda tersebut dianggap memiliki energi penolak bala atau kekuatan spiritual untuk melindungi penghuni rumah, terutama perempuan hamil.

Popularitas Kuyang di Budaya Populer

Legenda Kuyang tak hanya hidup dari mulut ke mulut di komunitas lokal, tetapi juga telah diangkat ke dalam berbagai media hiburan.

Kisahnya menjadi inspirasi dalam film horor, sinetron televisi, hingga konten-konten digital yang tersebar di media sosial.

Salah satu film yang mengangkat cerita Kuyang dirilis pada 20 Mei 2021 dan semakin menambah eksposur tentang mitos ini ke khalayak yang lebih luas.

Walaupun sebagian masyarakat modern menganggap cerita ini sebagai mitos atau takhyul semata, tetap saja banyak yang merasa merinding saat mendengar deskripsi sosok Kuyang atau menyaksikan gambarnya.

Apalagi bagi mereka yang tinggal di wilayah pedalaman Kalimantan, keyakinan akan keberadaan Kuyang masih sangat kuat dan menjadi bagian dari kepercayaan sehari-hari.

Legenda Serupa di Wilayah Lain

Menariknya, sosok serupa dengan Kuyang juga ditemukan dalam mitologi daerah lain di Asia Tenggara, dengan nama dan bentuk yang berbeda.

Misalnya di Thailand dan Filipina, ada makhluk bernama Krasue atau Manananggal yang memiliki ciri-ciri hampir identik: kepala perempuan terbang dengan organ dalam yang menjuntai, dan mencari mangsa di malam hari.

Kesamaan ini menunjukkan bahwa legenda seperti Kuyang bukan hanya cerita lokal, tetapi mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas terhadap kekuatan gelap, pelanggaran norma sosial, dan kecemasan terhadap keselamatan ibu hamil serta anak-anak.

Makna Sosial dan Budaya dari Legenda Kuyang

Lebih dari sekadar kisah seram, mitos Kuyang juga merefleksikan nilai-nilai dan norma yang dijaga oleh masyarakat.

Cerita ini bisa dimaknai sebagai bentuk peringatan terhadap praktik ilmu hitam, serta sebagai pengingat akan pentingnya melindungi kelompok rentan.

Seperti ibu hamil dan bayi, dari berbagai bentuk bahaya.

Dengan demikian, legenda Kuyang bukan hanya bagian dari tradisi lisan yang turun-temurun, tetapi juga menjadi alat sosial untuk menjaga ketertiban, membentuk moral, dan memperkuat solidaritas komunitas dalam menghadapi hal-hal yang tidak dapat dijelaskan secara logika. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#ilmu hitam #makhluk #ritual #Indonesia #kalimantan #kuyang