RADARTUBAN - Pergantian logo sebuah partai politik bukan perkara remeh. Dan ketika Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memutuskan memakai gajah sebagai lambang baru, banyak pihak bertanya-tanya: kenapa bukan banteng, burung garuda, atau simbol lain yang lebih ‘lazim’ dalam jagat politik Indonesia?
Jawabannya tak sekadar soal estetika atau pencitraan. Menurut Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, simbol gajah adalah hasil dari perenungan mendalam tentang arah dan identitas baru partai yang ia pimpin.
Gajah bukan hewan yang suka cari gaduh. Tapi sekali bergerak, langkahnya tak bisa diremehkan.
Itulah filosofi baru yang ingin dibawa PSI ke panggung politik nasional. Kekuatan tak selalu tampil dengan teriakan, melainkan dengan ketenangan dan konsistensi.
"Kami ingin jadi kekuatan yang mantap dan stabil. Tidak reaktif, tapi reflektif. Seperti gajah, yang tenang, besar, dan kuat,” jelas Kaesang.
PSI sadar bahwa saat ini posisinya belum dominan. Namun partai ini tak sedang berlari tergesa-gesa, melainkan membangun fondasi jangka panjang.
Logo gajah menjadi simbol dari ambisi tumbuh perlahan tapi pasti, menuju Pemilu 2029.
"Gajah tidak pernah terburu-buru. Tapi satu hal yang pasti: ia tidak pernah mundur,” ujar Kaesang, yang juga menyebut bahwa lambang ini dirumuskan melalui diskusi panjang, bukan keputusan instan atau sekadar lucu-lucuan politik.
Makna Strategis di Balik Logo Baru PSI:
Tenang tapi mengakar: PSI tak ingin larut dalam kegaduhan politik pragmatis jangka pendek.
Bergerak dalam diam: Seperti gajah, partai ini mengklaim akan membuktikan diri lewat kerja konkret, bukan janji bombastis.
Solidaritas yang kuat: Gajah dikenal memiliki ikatan sosial dan empati tinggi—nilai yang diklaim sejalan dengan DNA PSI.
Pemilihan simbol ini bisa jadi strategi branding jangka panjang yang cerdas, sekaligus cara mengokohkan identitas baru PSI di tengah peta politik nasional yang makin sesak.
"Kami tidak ingin jadi partai yang hanya hidup di masa kampanye. Kami ingin membuktikan bahwa kami konsisten dalam kerja, bukan cuma suara," tegas putra Presiden ke-7, Jokowi itu.
Dengan lambang gajah yang membawa makna filosofis dan strategis, PSI tampaknya tengah membangun cerita baru—jauh dari kesan partai anak muda penuh gimmick seperti yang dulu sering dilekatkan.
Apakah gajah ini akan membawa PSI masuk ke medan laga besar di 2029? Atau justru jadi beban simbolik belaka? Waktu yang akan menjawab. Tapi satu hal pasti—PSI sedang membidik masa depan, bukan nostalgia masa lalu. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni