RADARTUBAN – Sejarah industri kretek Indonesia tak bisa dilepaskan dari nama Cap 93, pabrik rokok legendaris yang berdiri di Kediri pada awal abad ke-20.
Meski kini hanya tersisa cerita, Cap 93 pernah menjadi “universitas kretek” dan melahirkan tokoh penting yang kemudian membangun raksasa rokok: Gudang Garam.
Didirikan oleh pengusaha Tionghoa, Tjoa Kok Tjiang, Cap 93 sempat menjadi pabrik rokok terbesar di Kediri. Ribuan buruh—mayoritas perempuan—bekerja melinting kretek dengan keterampilan tangan luar biasa. Popularitasnya menembus pelosok Jawa Timur.
Di pabrik inilah Tjoa Ing Hwie (yang kelak berganti nama menjadi Surya Wonowidjojo) ditempa. Dia diberi tanggung jawab mengawasi racikan tembakau dan menjaga kualitas kretek.
Namun, konflik keluarga membuatnya keluar pada 1956.
Dari situlah ia mendirikan usaha baru bernama Inghwie, yang pada 26 Juni 1958 berubah menjadi Gudang Garam.
Dari titik itulah, lahir perusahaan yang kini menjadi ikon Kediri dan Indonesia.
Ironisnya, saat Gudang Garam tumbuh pesat, Cap 93 justru tenggelam. Perubahan pasar dan persaingan membuat pabrik ini meredup dan akhirnya gulung tikar pada 1960-an.
Jejaknya hanya tersisa dalam cerita orang tua Kediri dan catatan sejarah.
Warisan Cap 93 tetap hidup dalam tubuh Gudang Garam. Hingga kini, Gudang Garam menjadi salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia, dengan ribuan tenaga kerja yang menopang ekonomi Kediri.
Data Pemkot Kediri menunjukkan, lebih dari 30 persen PDRB Kediri bersumber dari industri rokok, menjadikan kota ini sangat bergantung pada sektor kretek.
Gudang Garam juga menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Kediri Raya dengan puluhan ribu buruh, mayoritas perempuan—mewarisi pola kerja dari Cap 93. Tak heran, Kediri mendapat julukan “Kota Kretek” yang melekat hingga kini.
Kisah Cap 93 adalah bukti bahwa industri besar lahir dari tempat sederhana. Dari pabrik yang kini lenyap, lahir perusahaan raksasa yang mendunia.
Dari lintingan tangan para buruh perempuan, tercipta warisan ekonomi yang mengubah wajah Kediri selamanya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama