RADARTUBAN - Harapan Hidup Naik di Jawa Timur menjadi salah satu indikator paling menonjol dalam laporan terbaru BPS Jawa Timur tahun 2025.
Kepala BPS Jatim, Zulkipli, menyebutkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia Jawa Timur (IPM) kini mencapai angka 76,13 atau naik 0,78 poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan ini terutama didorong oleh faktor kesehatan dan kesejahteraan yang semakin baik di masyarakat.
“Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Timur tahun 2025 naik menjadi 76,13, didorong oleh meningkatnya harapan hidup, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat yang makin baik,” jelas Zulkipli dalam Berita Resmi Statistik.
Kenaikan IPM ini menegaskan bahwa pembangunan manusia di Jawa Timur masih berada pada kategori tinggi, dengan rata-rata pertumbuhan 0,89 persen per tahun selama periode 2021–2025.
Umur Harapan Hidup Naik, Tapi Tantangan Baru Mengintai
Zulkipli menjelaskan bahwa Umur Harapan Hidup (UHH) saat lahir meningkat dari 75,07 tahun pada 2024 menjadi 75,36 tahun pada 2025.
Kenaikan sebesar 0,29 tahun ini menunjukkan masyarakat Jawa Timur kini hidup lebih panjang dan sehat.
“Sekarang umur harapan hidup kita makin panjang. Kalau dulu rata-rata 63 tahun, sekarang 75 sampai 76 tahun. Artinya, masyarakat kita semakin sehat,” ujarnya.
Namun, di balik kabar baik bahwa Harapan Hidup Naik, ada tantangan baru yang harus dihadapi pemerintah dan masyarakat.
Semakin panjang usia hidup berarti semakin besar kebutuhan akan layanan kesehatan lansia, jaminan sosial, serta daya dukung ekonomi bagi masyarakat berusia lanjut.
Pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat memang menjadi pendorong penting peningkatan IPM.
Tetapi, jika tidak diimbangi dengan sistem kesehatan dan jaminan sosial yang kuat, masa hidup panjang bisa menjadi beban baru, bukan hanya bagi individu tetapi juga bagi negara.
Kesejahteraan Masyarakat Meningkat, Tapi Pemerataan Masih Jadi PR
Selain kenaikan umur harapan hidup, BPS Jawa Timur juga mencatat peningkatan signifikan pada dimensi standar hidup layak.
Pengeluaran riil per kapita per tahun masyarakat Jatim mencapai Rp13,51 juta, naik sebesar 5,11 persen dibanding tahun 2024.
Angka ini menjadi penanda positif bahwa kesejahteraan masyarakat terus meningkat.
“Dari sisi ekonomi, capaian ini menggambarkan kesejahteraan masyarakat yang terus meningkat. Kalau gizi dan kesehatan membaik, harapan hidup pun naik,” terang Zulkipli.
Kendati begitu, pemerataan pembangunan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Tak semua wilayah merasakan dampak peningkatan IPM secara merata.
Delapan daerah, seperti Kota Surabaya, Kota Malang, dan Kabupaten Sidoarjo, sudah masuk kategori “sangat tinggi,” sementara beberapa kabupaten lain masih tertinggal di kategori “tinggi” dan “sedang.”
Menjaga Tren Positif Agar Tak Jadi Beban Ekonomi
Kenaikan IPM dan fakta bahwa Harapan Hidup Naik di Jawa Timur adalah capaian penting, namun keberlanjutannya bergantung pada keseimbangan antara kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.
Jika kualitas pendidikan dan lapangan kerja tidak tumbuh seiring peningkatan usia harapan hidup, maka tekanan sosial-ekonomi bisa meningkat.
Zulkipli menegaskan, keberhasilan pembangunan manusia tidak hanya diukur dari panjangnya umur, tetapi juga dari kemampuan masyarakat untuk hidup produktif dan sejahtera.
“Kalau kita lihat dari tiga indikator itu, semuanya membaik. Umur harapan hidup meningkat, dari sisi pengeluaran per kapita juga naik cukup bagus. Untuk pengetahuan juga tumbuh, meski sedikit melambat,” ujarnya.
Dengan demikian, Indeks Pembangunan Manusia Jawa Timur bukan sekadar angka statistik, tetapi gambaran nyata tentang arah masa depan penduduknya, hidup lebih panjang, lebih sehat, dan semoga lebih sejahtera. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni