Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mengapa Kita Harus Peduli pada Kerusakan Alam? Jangan Sampai Menyesal Saat Sudah Terlambat

M. Afiqul Adib • Minggu, 30 November 2025 | 13:15 WIB
Ilustrasi kerusakan alam.
Ilustrasi kerusakan alam.

RADARTUBAN - Selama ini banyak orang menganggap kerusakan alam hanyalah urusan aktivis lingkungan atau organisasi internasional.

Padahal, setiap pohon yang tumbang, setiap hutan yang dibakar, dan setiap sungai yang tercemar akan kembali ke hidup kita sendiri.

Alam bukan sekadar pemandangan indah, melainkan penopang utama kehidupan. Tanpa alam yang sehat, manusia tidak akan bisa bertahan.

Alam adalah Sumber Nafas Kita

Sekitar 80% pasokan oksigen bumi diproduksi oleh hutan dan ekosistem laut. Ketika hutan ditebang habis, kualitas udara memburuk, penyakit pernapasan meningkat, dan pemanasan global semakin parah.

Kasus kabut asap di Sumatra adalah contoh nyata: sekali hutan rusak, semua orang ikut merasakan sesaknya. Nafas kita bergantung pada keberadaan pohon dan laut yang sehat.

Baca Juga: Mengenal Rafflesia Hasseltii yang Mekar di Hutan Sumatra, Spesies Langka yang Jarang Disaksikan Manusia

Kerusakan Alam Memicu Bencana

Banjir bandang, longsor, dan kekeringan bukan sekadar musibah “alam”. Banyak dari itu terjadi karena ulah manusia: hutan dibabat, sungai dipersempit, dan lahan gambut dikeringkan.

Begitu hutan hilang, tanah kehilangan pegangan, air mengalir liar, dan nyawa manusia jadi taruhannya. Kerusakan alam berarti membuka pintu bagi bencana yang lebih sering dan lebih parah.

Kehilangan Keanekaragaman Hayati = Kehilangan Masa Depan

Indonesia adalah rumah bagi spesies langka dunia seperti gajah Sumatra dan harimau Sumatra. Ketika habitat mereka dihancurkan, mereka hilang selamanya.

Padahal, keragaman hayati sering menjadi sumber penemuan obat-obatan, ketahanan pangan, hingga ekonomi kreatif dan pariwisata.

Alam yang rusak sama artinya dengan memutus peluang generasi mendatang untuk hidup lebih baik.

Kesehatan Manusia Bergantung pada Kesehatan Lingkungan

Limbah industri yang mencemari air dan tanah bisa memicu kanker, gangguan hormon, penyakit kulit, dan penurunan kualitas hidup. Ketika ekosistem terganggu, virus dan penyakit baru ikut bermunculan.

Pandemi global menjadi peringatan pahit bahwa kerusakan alam dapat membawa ancaman serius bagi kesehatan manusia di seluruh dunia.

Ekonomi Bisa Runtuh Akibat Ekologi Rusak

Kerusakan alam bukan hanya kehilangan pohon, tetapi juga kehilangan pekerjaan dan pendapatan. Pertanian gagal panen karena tanah rusak, nelayan kehilangan ikan karena laut tercemar, dan konflik sosial meningkat ketika sumber daya alam menipis. Ekonomi yang rapuh akibat ekologi rusak akan mengguncang stabilitas hidup masyarakat.

Alam Menjaga Kesehatan Mental Kita
Hutan, gunung, dan laut bukan hanya tempat liburan. Mereka punya efek pemulihan pada otak dan perasaan. Ketika ruang hijau makin sempit, stres meningkat, depresi meluas, dan kehidupan terasa sumpek. Alam yang sehat adalah ruang terapi alami yang membantu manusia tetap waras di tengah tekanan hidup modern.

Kalau Bukan Kita, Lalu Siapa? Kalau Bukan Sekarang, Kapan Lagi?
Kerusakan alam tidak terjadi dalam semalam, namun dampaknya bisa berlangsung sepanjang hidup. Perubahan kecil yang kita lakukan, entah dengan mengurangi sampah, menanam pohon, menghemat air, atau memilih produk ramah lingkungan adalah langkah awal menyelamatkan bumi tempat kita berpijak. Sekarang saatnya berhenti diam. Bumi sudah lama berteriak, menunggu kita bertindak.

Bumi hanya punya satu penghuni yang mampu merusaknya secepat ini: manusia. Maka manusialah yang wajib memperbaikinya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#hutan #oksigen #banjir #bencana #kerusakan alam