Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Profil Ulil Abshar, yang Kembali Viral Usai Labeli Penolak Tambang sebagai Wahabi Lingkungan

Bihan Mokodompit • Minggu, 30 November 2025 | 19:35 WIB
Ulil Abshar Abdalla, namanya kembali mencuat usai video debatnya kembali viral.
Ulil Abshar Abdalla, namanya kembali mencuat usai video debatnya kembali viral.

RADARTUBAN - Ulil Abshar Abdalla, biasa dipanggil Gus Ulil, adalah tokoh penting di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Lahir di Pati, Jawa Tengah pada 11 Januari 1967.

Pendidikan agama dan umum menjadi bagian dari tumbuh kembangnya: ia menempuh pendidikan pesantren di Mansajul ’Ulum, lalu melanjutkan studi di LIPIA Jakarta dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

Kariernya melejit ketika dia dikenal sebagai salah satu pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL), bersama tokoh intelektual lainnya.

Kini, Ulil menjabat sebagai Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia PBNU untuk masa khidmah 2022-2027.

Pernyataannya yang Kembali Viral: “Wahabi Lingkungan”

Beberapa waktu terakhir, nama Ulil Abshar Abdalla menjadi sorotan publik akibat pernyataannya dalam diskusi soal pertambangan nikel di kawasan Raja Ampat, Papua Barat Daya, yang disiarkan dalam program ROSI di KompasTV.

Dalam dialog tersebut, Ulil menyebut kelompok aktivis lingkungan yang menolak tambang secara total sebagai “wahabi lingkungan”.

Menurut Ulil, sikap penolakan tambang tanpa kompromi dianggap ekstrem — ia membandingkannya dengan paham puritanisme agama yang kaku, istilah yang selama ini dipakai untuk mendeskripsikan kelompok konservatif.

Reaksi Publik & Kritik Terhadap Pernyataan Ulil

Pernyataan itu memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan — dari aktivis lingkungan, tokoh masyarakat, hingga politikus.

Beberapa menilai sebutan “wahabi lingkungan” sebagai bentuk delegitimasi moral terhadap perjuangan penyelamatan lingkungan, yang selama ini dilakukan dengan riset dan aspirasi masyarakat lokal.

Ada pula yang menilai bahwa pernyataan Ulil berpotensi menyederhanakan posisi lawan — padahal penolakan tambang sering kali didasarkan pada data ekologis, sosial, dan keberlanjutan jangka panjang.

Bahkan di kalangan internal NU, kritik muncul terkait cara retorikanya — karena istilah “wahabi” punya konotasi keagamaan dan bisa menimbulkan polarisasi.

Sikap kritis tersebut menunjukkan bahwa publik berharap isu lingkungan dan eksploitasi sumber daya alam dibahas secara objektif — bukan melalui label ideologis yang bisa memecah belah umat atau masyarakat.

Pandangan Ulil: Antara Ekonomi, Pembangunan, dan Lingkungan

Ulil membela posisinya dengan argumen bahwa penolakan tambang secara total bisa merugikan negara dari aspek ekonomi, dia menekankan perlunya kalkulasi maslahat dan mafsadat (keuntungan dan kerugian), bukan sikap ekstrem.

Meski demikian, tidak semua konsesi pertambangan disetujui tanpa catatan: pada 11 Juni 2025, PBNU, atas nama Ulil, menyatakan apresiasi kepada pemerintah karena telah mencabut izin empat pengelola tambang nikel di Raja Ampat.

Hal ini menunjukkan adanya dinamika ambivalen.

Antara mendukung pembangunan dan pertambangan, namun juga mengakui pentingnya regulasi dan pengawasan terhadap izin tambang, jika kerusakan lingkungan terancam.

Mengapa Ulil Abshar Abdalla Banyak Dibicarakan Sekarang

Beberapa faktor membuat Ulil kembali menjadi sorotan publik:

1. Isu Tambang dan Lingkungan yang Sensitif

Kawasan Raja Ampat dikenal sebagai surga ekologi dunia; masyarakat dan aktivis lingkungan memandang tambang nikel sebagai ancaman serius terhadap kelestarian alam dan mata pencaharian lokal.

Dalam konteks ini, setiap pernyataan yang memihak pertambangan atau menyudutkan penolak tambang akan langsung diperhatikan luas.

2. Label Ideologis “Wahabi Lingkungan”

Menyematkan istilah bernada keagamaan terhadap aktivis lingkungan dianggap sebagai retorik provokatif; tidak hanya menyederhanakan isu lingkungan, tapi juga membuka ruang konflik sosial, agama, dan politik.

3. Posisi Ulil di PBNU

Karena PBNU adalah organisasi keagamaan besar dengan pengaruh luas, ucapan dan pandangannya punya bobot besar.

Banyak pihak merasa penting untuk mengawasi dan mengkritik ketika terjadi pernyataan publik yang sensitif terhadap agama, lingkungan, dan politik.

4. Perubahan Persepsi Publik terhadap Eksploitasi SDA

Semakin banyak masyarakat dan generasi muda yang peduli terhadap isu lingkungan, keberlanjutan, dan keadilan sosial.

Oleh karena itu, narasi tentang “pembangunan vs lingkungan” sering diperdebatkan — Ulil muncul sebagai gambaran benturan pandangan tersebut antara umat, masyarakat, dan negara.

Ulil Abshar Abdalla adalah figur yang kompleks, intelektual dengan akar pesantren, aktivis agama, sekaligus elite organisasi besar keagamaan.

Kini dia menghadapi sorotan tajam karena pernyataannya yang menyebut aktivis lingkungan penolak tambang sebagai “wahabi lingkungan”.

Pernyataan itu memancing kritik dari banyak pihak, karena dianggap mereduksi isu lingkungan menjadi persoalan ideologi atau agama, padahal sering kali terkait dengan kelestarian alam, hak masyarakat lokal, dan masa depan generasi.

Dengan demikian, keberadaan Ulil Abshar Abdalla dalam wacana publik saat ini menggambarkan ketegangan antara pandangan keagamaan, pembangunan ekonomi, dan kepedulian lingkungan, sebuah refleksi penting bagi masyarakat Indonesia. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#jakarta #pati #lingkungan #ulil abshar abdalla #pbnu #wahabi