RADARTUBAN - Libur Natal dan tahun baru tinggal hitungan hari.
Seiring cuaca ekstrem yang diprediksi melanda sejumlah wilayah mulai akhir 2025 dan awal 2026 nanti, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan selama menikmati masa liburan.
Seluruh kabupaten/kota se-Jawa Timur, termasuk Tuban, diprediksi tidak luput dari potensi cuaca ekstrem hingga akhir tahun nanti.
Dalam rilis peringatan dini yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, seluruh kabupaten/kota se-Jatim berpotensi diguyur hujan lebat yang dapat mengakibatkan terjadinya bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang, tanah longsor, puting beliung, hingga hujan es.
Dari potensi bencana alam yang disebabkan aktivitas cuaca ekstrem tersebut, Kabupaten Tuban termasuk wilayah yang patut diwaspadai.
Pasalnya, kabupaten di ujung barat pesisir Jawa Timur ini termasuk kategori wilayah rawan bencana hidrometeorologi. Utamanya banjir bandang dan angin puting beliung. Beberapa kecamatan di Tuban menjadi langganan dua bencana tersebut.
Berdasar data yang dihimpun Jawa Pos Radar Tuban, di antara wilayah yang rawan banjir bandang, yakni Kecamatan Rengel yang dampaknya hingga Kecamatan Plumpang.
Kemudian Kecamatan Montong yang imbasnya hingga Kecamatan Kerek. Lalu, Kecamatan Palang, dan sebagian Kecamatan Tuban yang merupakan imbas kiriman air dari wilayah perbukitan di Kecamatan Semanding.
Dalam pernyataannya, Ketua Komisi II DPRD Tuban Fahmi Fikroni menilai bah dengan debit air yang besar dan bercampur lumpur itu terjadi lantaran wilayah perbukitan di kawasan hulu dalam kondisi kritis.
Di Kecamatan Rengel, misalnya.
Penambangan batu kapur di wilayah ini semakin ugal-ugalan.
Perbukitan yang membentang dari Rengel hingga Grabagan perlahan habis dibabat penambang-penambang rakus dengan menggunakan alat berat.
Itu tampak dari pemandangan bukti yang penuh dengan “luka” lubang menganga di mana-mana.
Kondisi lahan kritis itu mengakibatkan bah yang tumpah dari wilayah perbukitan tidak lagi murni sisa air hujan.
Melainkan lumpur dan kerikil yang tersapu derasnya gulungan air dari hulu.
Pun demikian dengan wilayah perbukitan di Kecamatan Palang.
Kondisinya tidak jauh beda. Penambangan batu kumbung tanpa jeda mengakibatkan hilangnya kawasan resapan. Akibatnya, wilayah hilir menjadi langganan banjir bandang.
Sementara di kecamatan lain, seperti Montong dan Kerek, banjir bandang dipicu alih fungsi lahan.
Khusus di Kecamatan Semanding, selain hilangnya sebagian kawasan resapan yang memicu banjir bandang, kecamatan ini juga rawan bencana angin puting beliung. Dan, petaka itu sudah terjadi dua pekan lalu.
Ratusan rumah di sembilan desa rusak ringan hingga berat setelah dihantam angin ribut.
Kepala BMKG Tuban Muchammad Nur mengatakan, dari peringatan dini yang dirilis BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, prediksi cuaca ekstrem yang berpotensi menyebabkan bencana hidrometeorologi itu bakal berlangsung hingga akhir tahun.
‘’Diperkirakan, dalam sebelas hari ke depan (21-31 Desember) akan terjadi peningkatan cuaca ekstrem yang berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat,’’ katanya.
Dia menjelaskan, potensi cuaca ekstrem ini merupakan dampak aktifnya monsun Asia serta adanya bibit siklon tropis 93S di sekitar Samudra Hindia, tepatnya di selatan Jawa Barat.
Siklon tersebut memicu peningkatan cuaca ekstrem dan ancaman angin kencang di perairan Jawa Timur.
Dari prediksi cuaca ekstrem yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi tersebut, terang Nur, masyarakat dan instansi terkait diimbau untuk senantiasa waspada terhadap perubahan cuaca mendadak.
Serta adanya potensi cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang selama sebelas hari ke depan.
‘’Termasuk di Kabupaten Tuban,’’ ujarnya. Terlebih, bencana angin puting beliung yang sebelumnya telah melanda wilayah Kecamatan Semanding.(tok)
Editor : Yudha Satria Aditama