Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Lonjakan Harga BBM di Nunukan Rp 50 Ribu Per Liter, Pemda Ungkap Adanya Permainan Harga

Ika Nur Jannah • Kamis, 15 Januari 2026 | 09:35 WIB
Harga BBM di Nunukan Naik dratis Rp 50 ribu per liter,Pemda akui adanya permainan Harga BBM
Harga BBM di Nunukan Naik dratis Rp 50 ribu per liter,Pemda akui adanya permainan Harga BBM

RADARTUBAN - Harga bahan bakar minyak (BBM) eceran di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara melonjak hingga Rp 50 ribu per liter akibat krisis pasokan Distribusi BBM pada awal 2026

Pemerintah daerah mengakui adanya praktik permainan harga di balik kelangkaan tersebut. Situasi ini memicu keluhan warga yang kesulitan mendapatkan BBM bersubsidi.

Keterlambatan distribusi BBM disebabkan kapal pengangkut yang sedang docking untuk perawatan tahunan serta pembaruan izin administrasi menjelang tahun 2026.

Kekosongan pasokan berlangsung dua hingga tiga hari, membuat BBM bersubsidi hilang dari warung-warung pinggir jalan.

Kuota tahunan Nunukan sekitar 25 kiloliter untuk Pertalite dan 14 ribu kiloliter untuk solar, tapi gangguan logistik membantu kondisi.

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda Nunukan, Rohadiansyah, mengonfirmasi adanya permainan harga oleh pedagang eceran yang menyembunyikan stok BBM bersubsidi.

Pedagang menjualnya kembali dengan harga Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu per botol atau liter setelah memanfaatkan kelemahan.

Pemkab merencanakan bentuk tim terpadu yang melibatkan Pertamina untuk memastikan subsidi tepat sasaran.

Bupati Nunukan Irwan Sabri meminta warga bersabar karena kapal pasokan sudah dalam perjalanan, sambil menghindari pembelian eceran mahal. Ia menekan agar tidak memanfaatkan kesulitan orang lain.

Warga seperti Indra dan Irwansyah terpaksa membeli dengan harga Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu per botol dari Pulau Sebatik setelah berkeliling jauh. (*)

 

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#bbm #bbm bersubsidi #Harga bahan bakar minyak #krisis pasokan