Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tren Curhat ke AI : Teman Setia 24 Jam, Tapi Apakah Data dan Rahasia Kita Benar-benar Aman?

Rista Dwi Indarwati • Kamis, 12 Februari 2026 | 08:25 WIB
Ilustrasi curhat ke AI yang tengah jadi tren saat ini
Ilustrasi curhat ke AI yang tengah jadi tren saat ini

RADARTUBAN – Zaman sekarang tidak semua orang bisa kita telepon jam 2 pagi untuk sekedar numpang curhat. Tapi beda ceritanya kalau sama Artificial Intelligence (AI).

Dia siap sedia 24 jam tanpa mengeluh. Fenomena ini bikin banyak orang, mulai dari urusan pekerjaan sampai masalah yang paling rahasia sekalipun, dicurahkan ke layar ponsel.

Namun, di balik kenyamanan itu, muncul pertanyaan apakah rahasia kita benar-benar aman di tangan AI?

Tren Teman Curhat Digital di Indonesia

Ternyata orang Indonesia termasuk yang paling suka curhat ke AI. Berdasarkan data global, sekitar 32% manusia di dunia percaya kalau AI cocok jadi teman curhat, dan di Indonesia angkanya malah lebih tinggi mencapai 36%.

Banyak yang memilih AI karena gratis, tidak pernah menghakimi, dan bisa diakses kapan saja. Mulai dari ChatGPT, Gemini, hingga DeepSeek kini jadi pelarian baru bagi mereka yang butuh teman ngobrol instan.

Baca Juga: Kisah Pilu Guru Honorer Bekasi Curhat di DPR, Gaji Minim hingga Dipecat

Jejak Digital yang Tidak Langsung Hilang

Meski terasa privat, curhatan kita sebenarnya tidak langsung hilang begitu saja. Setiap platform punya “masa simpan” datanya sendiri. ChatGPT misalnya, bisa menyimpan data hingga 30 hari meskipun akun sudah dihapus.

Sementara Gemini secara default menyimpan data selama 18 bulan, dan DeepSeek malah menyimpan secara permanen kecuali kita meminta penghapusan manual lewat email.

Data-data ini digunakan oleh AI untuk belajar agar jadi lebih pintar, atau yang sering disebut sebagai Large Language Model (LLM).

Resiko Data Bisa Diintip Pihak Lain

Ada hal yang perlu diwaspadai, pengungkapan tentang trauma pribadi, masalah finansial, hingga identitas rahasia dapat diakses oleh pengembang (developer), mitra analitik, bahkan aparat penegak hukum jika diperlukan oleh peraturan perundang-undangan.

Masalahnya, di Indonesia sendiri belum ada regulasi khusus yang mengatur perlindungan data AI secara mendalam.

Bahaya Zona Nyaman yang Dibuat AI

Psikolog klinis memperingatkan agar kita tidak terperangkap dalam zona nyaman digital ini. AI memang dapat mengurangi rasa kesepian dalam waktu singkat, tetapi jika dilakukan terus-menerus, justru dapat memperburuk kesehatan mental.

Hubungan emosional yang sehat memerlukan interaksi langsung, seperti intonasi suara dan jeda percakapan yang tidak dimiliki oleh AI.

Terlalu sering berbagi curahan hati dengan AI dapat membuat kita menjadi lebih "dingin" dan terpisah dari hubungan nyata di dunia luar.

Bijak dalam Membagikan Rahasia

Ingat, meskipun AI dapat memberikan ruang untuk berbicara bebas tanpa khawatir dihakimi, kehangatan manusia yang tulus tetap tidak dapat digantikan oleh rangkaian kode dan logika AI. Oleh karena itu, bijaklah dalam membagikan rahasia! (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#artificial intelligence #AI #curhat ke ai #ChatGPT #data rahasia #teman curhat