RADARTUBAN - Berdasarkan laporan terbaru dari Pew Research pada tahun 2025, tercatat bahwa kurang lebih 24,2% dari total penduduk di seluruh dunia saat ini tidak memiliki keterikatan dengan institusi agama mana pun atau mengidentifikasi diri sebagai ateis.
Data survei tersebut turut memaparkan tren peningkatan yang stabil, di mana dalam kurun waktu satu dekade sejak 2010 hingga 2020, proporsi masyarakat yang menyatakan diri tidak beragama atau tidak berafiliasi secara religius mengalami kenaikan dari angka 23% menuju 24,2% dari populasi global.
Pendidikan dan Kemajuan Teknologi Dinilai Jadi Faktor Pendorong
Fenomena meluasnya paham ateisme ini secara umum dianalisis memiliki kaitan erat dengan tingkat pendidikan masyarakat yang semakin membaik, kemajuan pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pergeseran tatanan sosial yang mendorong individu untuk lebih memprioritaskan logika rasional serta bukti empiris ketimbang penjelasan yang bersumber dari keyakinan religius.
Di berbagai belahan negara, proses sekularisasi Piyakni pemisahan peran agama dari lembaga-lembaga publik turut menyebabkan agama tidak lagi menduduki posisi sentral dalam interaksi kehidupan sosial sebagaimana yang terjadi di era sebelumnya.
Baca Juga: KUHP Baru Berlaku Mulai 2 Januari 2026: Ganggu Ibadah Agama Lain Kini Bisa Dipidana
Daftar 20 Negara dengan Penduduk Ateis Terbanyak
Merujuk pada data Pew Research Center's Religious Composition by Country yang dirilis tahun 2022, berikut adalah daftar negara-negara yang memiliki konsentrasi penduduk ateis atau tidak beragama paling tinggi di dunia:
Republik Ceko: Memiliki persentase penduduk ateis sebesar 78,4 persen.
Korea Utara: Mencatat angka populasi ateis sebanyak 71,3 persen.
Estonia: Tingkat masyarakat tidak beragama mencapai 60,2 persen.
Jepang: Sekitar 60 persen penduduknya mengidentifikasi diri sebagai tidak berafiliasi agama.
Hong Kong: Memiliki proporsi ateis sebesar 54,7 persen.
China: Mencatat persentase penduduk tidak beragama sebanyak 51,8 persen.
Korea Selatan: Sebanyak 46,6 persen warganya tidak memiliki afiliasi religius.
Latvia: Populasi ateis di negara ini berada di angka 45,3 persen.
Belanda: Persentase masyarakat tidak beragama mencapai 44,3 persen.
Uruguay: Tercatat sebesar 41,5 persen penduduknya bersifat ateis.
Selandia Baru: Sebanyak 39,6 persen warganya tidak memiliki keterikatan agama.
Mongolia: Memiliki populasi ateis sebesar 36,5 persen.
Prancis: Tercatat sebanyak 31,9 persen warganya tidak beragama.
Britania Raya dan Irlandia Utara: Angka penduduk tidak berafiliasi mencapai 31,2 persen.
Belgia: Memiliki persentase penduduk ateis sebesar 31 persen.
Vietnam: Sebanyak 29,9 persen masyarakatnya mengidentifikasi diri tidak beragama.
Swedia: Angka populasi tanpa afiliasi religius berada di 29 persen.
Australia: Mencatat angka masyarakat ateis sebesar 28,6 persen.
Belarus: Sebanyak 28,6 persen warganya tidak terikat institusi agama.
Luksemburg: Memiliki proporsi penduduk ateis sebanyak 26,7 persen.
Republik Ceko Jadi Negara dengan Tingkat Religiusitas Terendah
Hasil pengamatan dari Eurobarometer dan Pew Research secara konsisten memosisikan Republik Ceko sebagai negara dengan tingkat religiositas paling rendah di kawasan Eropa.
Secara statistik, sekitar 65 hingga 70 persen warga negara Ceko mendefinisikan diri mereka sebagai ateis atau tidak memiliki ikatan agama.
Sebaliknya, hanya terdapat sekitar 20 hingga 25 persen penduduk yang mengaku sebagai penganut agama tertentu, dengan mayoritas memeluk Katolik, meskipun frekuensi praktik ibadah mereka tergolong sangat rendah.
Pengaruh Sejarah dan Politik Membentuk Pola Sekularisasi
Kondisi tersebut dipengaruhi kuat oleh sejarah masa lalu Ceko di bawah rezim komunisme antara tahun 1948 hingga 1989, yang secara aktif mengampanyekan sekularisme dan membatasi gerak lembaga-lembaga keagamaan.
Selain pengaruh politik, terdapat pula warisan sejarah Hussitisme, sebuah gerakan reformasi Kristen pada abad ke-15, yang berperan dalam mengikis dominasi otoritas Gereja Katolik di wilayah tersebut.
Perpaduan antara latar belakang sejarah, dinamika politik, serta akar budaya inilah yang akhirnya membentuk pola pikir masyarakat Ceko yang cenderung kritis terhadap institusi agama. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni