RADARTUBAN - Produksi minyak di Lapangan Banyu Urip kembali terdongkrak. Intervensi teknologi pada salah satu sumur di lapangan tersebut berhasil meningkatkan produksi secara signifikan sekaligus menekan biaya operasi.
Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) mencatat keberhasilan kegiatan perawatan sumur (well services) pada Sumur Banyu Urip A07 melalui program water shut-off (WSO). Program ini bertujuan menekan aliran air yang tidak diinginkan di dalam sumur sehingga produksi minyak dapat dimaksimalkan.
Hasilnya melampaui target. Produksi minyak dari sumur tersebut meningkat dari 4.800 barel minyak per hari (barrel oil per day/BOPD) menjadi 12.300 BOPD. Dengan demikian terdapat tambahan produksi sekitar 7.500 BOPD, jauh di atas target awal sebesar 1.000 BOPD.
Tambahan produksi tersebut turut berkontribusi terhadap peningkatan lifting minyak nasional. Selama ini Lapangan Banyu Urip dikenal sebagai salah satu penopang utama produksi minyak Indonesia sehingga setiap peningkatan produksi dari lapangan ini memiliki arti strategis bagi ketahanan energi nasional.
Program WSO dilakukan untuk menghentikan aliran air dari zona bawah sumur agar proporsi minyak yang dihasilkan lebih tinggi. Melalui metode ini potensi produksi sumur yang telah ada dapat dioptimalkan tanpa perlu pengeboran baru.
Sejumlah teknologi diterapkan dalam kegiatan tersebut, antara lain pemasangan bridge plug, re-perforation, serta stimulasi acidizing. Pendekatan ini dinilai efektif untuk meningkatkan kinerja sumur sekaligus mempercepat perolehan tambahan produksi dengan biaya yang lebih efisien.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengapresiasi capaian tersebut. Menurut dia, keberhasilan ini menunjukkan bahwa intervensi teknologi yang tepat dapat meningkatkan produksi dalam waktu relatif singkat.
“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa intervensi teknologi yang tepat dapat memberikan peningkatan produksi yang signifikan dalam waktu relatif singkat. Ini adalah bukti bahwa optimalisasi sumur eksisting dapat secara langsung mendorong peningkatan lifting minyak nasional,” ujarnya.
Djoko menambahkan, efisiensi juga menjadi nilai penting dari kegiatan tersebut.
“Selain meningkatkan produksi, kegiatan ini juga menunjukkan efisiensi biaya dan waktu. Praktik baik seperti ini perlu direplikasi di lapangan lain untuk mempercepat pencapaian target lifting nasional serta memperkuat ketersediaan energi,” katanya.
Secara operasional, kegiatan perawatan sumur dilakukan tanpa menggunakan rig (rigless operation). Pekerjaan memanfaatkan unit wireline sehingga pelaksanaan dapat dilakukan lebih cepat dan ekonomis.
Dari sisi anggaran, realisasi biaya tercatat sekitar 57 persen dari total anggaran yang telah disetujui. Hal ini mencerminkan pengelolaan program yang relatif efisien.
Keberhasilan perawatan Sumur Banyu Urip A07 tersebut menunjukkan bahwa optimalisasi sumur eksisting dapat menjadi strategi yang efektif dan hemat biaya dalam menjaga momentum peningkatan lifting minyak nasional. Pengalaman ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi kontraktor kontrak kerja sama lain dalam menerapkan teknologi secara tepat untuk meningkatkan produksi migas.(ds)
Editor : Yudha Satria Aditama