RADARTUBAN — Medali perunggu SEA Games Thailand yang diraih tim sepak takraw putri Indonesia bukan sekadar hasil pertandingan.
Di baliknya, ada kerja panjang pembinaan atlet Jawa Timur yang akhirnya menemukan bentuk nyatanya—dan Salsa Sabilillah adalah salah satu buktinya.
Atlet asal Dusun Tlogopule, Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Tuban, itu turut mempersembahkan medali perunggu dari nomor tim beregu putri di ajang SEA Games yang berlangsung di Nakhon Pathom Municipal Gymnasium, Thailand.
Bagi Jawa Timur, khususnya Tuban, raihan ini menegaskan satu hal penting: pembinaan atlet daerah yang konsisten mampu menembus level internasional.
Panggung ASEAN dan Mental Atlet Daerah
Di arena pertandingan, tim Merah Putih tampil dengan determinasi tinggi. Myanmar dan Malaysia berhasil dilewati dalam laga-laga krusial yang menguji ketahanan fisik dan mental.
Baca Juga: Jejak Atlet Tuban di SEA Games: Salsa Sabilillah Sumbang Medali Perunggu untuk Indonesia
Namun langkah Indonesia terhenti oleh Vietnam, tim yang akhirnya memaksa Indonesia puas di podium ketiga.
Bagi Salsa, pencapaian ini memiliki makna berlipat. SEA Games Thailand menjadi debut perdananya di ajang multievent internasional terbesar se-ASEAN.
“Bangga tentunya, terharu dan masih tidak menyangka bisa berada di titik ini. Sebuah kebanggaan bisa membawa nama Indonesia di kancah olahraga ASEAN,” ungkap Salsa.
Pernyataan itu mencerminkan bukan hanya kebahagiaan pribadi, tetapi juga tekanan mental yang berhasil dilewati atlet muda dari daerah.
Medali yang Dibayar dengan Disiplin
Medali perunggu tersebut, menurut Salsa, adalah buah dari proses panjang yang dijalani dengan disiplin keras dan pengorbanan usia muda.
Jam latihan yang melelahkan, rutinitas ketat, hingga tekanan di level internasional menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan itu.
“Medali perunggu ini saya persembahan kepada orang tua dan keluarga di rumah, masyarakat Indonesia, khususnya Tuban yang telah mendoakan saya,” ujarnya.
Di titik ini, podium bukan lagi soal peringkat, melainkan tentang hasil dari pembinaan berlapis yang dijalani sejak usia sekolah.
Produk Sistem Pembinaan Jatim
Nama Salsa bukanlah kejutan instan. Gadis kelahiran 24 Februari 2003 ini telah lama dikenal di Tuban sebagai atlet pekerja keras yang tumbuh melalui jalur pembinaan formal dan berjenjang.
Putri dari pasangan Saleman dan Sarinten itu memulai pendidikan di SDN Prunggahan 03, berlanjut ke SMPN 1 Semanding, lalu masuk SMA Negeri Olahraga Jawa Timur di Sidoarjo—sebuah institusi kunci dalam sistem pembinaan atlet Jatim. Saat ini, ia melanjutkan studi di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa prestasi di SEA Games bukan hasil kebetulan, melainkan output dari sistem pembinaan yang dirancang sejak dini.
Baca Juga: Bukan Kebetulan, Dominasi Jawa Timur di SEA Games Hasil Pembinaan Jangka Panjang
Prestasi Pra-SEA Games yang Konsisten
Sebelum masuk skuad SEA Games, Salsa sudah menorehkan prestasi nasional yang solid:
- Juara 1 Team Double Event Pra-PON XXI Jateng 2023
- Juara 1 Regu PON XXI Aceh–Sumut 2024
- Juara 1 Double Event Pomnas Jateng 2025
Deretan gelar itu menempatkan Salsa sebagai salah satu atlet takraw putri paling stabil yang dimiliki Indonesia—dan memperkuat argumen bahwa pembinaan Jatim bekerja dengan konsistensi, bukan sporadis.
Validasi dari Daerah
Ketua Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Tuban, Edi Basuki, menyebut capaian Salsa sebagai kebanggaan sekaligus validasi atas pola pembinaan yang selama ini dijalankan.
“Ini bukti bahwa pembinaan di Tuban berjalan dengan baik. Salsa adalah contoh nyata atlet daerah yang lahir dari proses panjang dan disiplin tinggi. Kami sangat bangga,” tegasnya.
Menurut Edi, prestasi di SEA Games menegaskan bahwa atlet Tuban bukan sekadar pelengkap, melainkan mampu bersaing di level internasional.
Perunggu yang Menjadi Pondasi
PSTI Tuban menilai capaian ini harus dibaca sebagai pijakan, bukan garis akhir. Fokus pembinaan usia dini akan terus diperkuat agar regenerasi atlet tetap terjaga.
“Medali perunggu ini bukan akhir. Kami yakin ke depan Salsa dan atlet-atlet Tuban lainnya bisa melangkah lebih jauh, bahkan meraih emas,” tandasnya.
Lebih dari Kisah Individu
Dari lapangan kampung hingga arena SEA Games, perjalanan Salsa Sabilillah bukan sekadar cerita personal.
Ini adalah potret keberhasilan pembinaan atlet Jawa Timur yang bekerja dalam senyap, tetapi berbicara lantang lewat prestasi.
Di tengah sorotan publik yang sering terpusat pada hasil akhir, medali perunggu ini mengingatkan satu hal: prestasi besar lahir dari proses panjang—dan Tuban telah membuktikannya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni