Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Terminal Baru Tuban Sepi, Menurutmu Enaknya Dipakai Buat Apa Ya?

M. Afiqul Adib • Rabu, 28 Mei 2025 | 14:58 WIB
Kondisi Terminal Baru Tuban yang semakin sepi.
Kondisi Terminal Baru Tuban yang semakin sepi.

RADARTUBAN - Kalau kamu sempat lewat daerah utara Tuban, tepatnya dekat kawasan Kambang Putih, kamu mungkin pernah lihat bangunan besar bertuliskan “Terminal Wisata Tuban”.

Gedungnya megah, lahannya luas, tapi kok… sepi? Bahkan dari kejauhan, kesan pertama yang muncul justru bukan “wah ini terminal penting”, tapi malah “ini bangunan kosong buat apa sih?”.

Terminal ini sebenarnya bukan proyek ecek-ecek. Dibangun sejak 2005, Terminal Kambang Putih atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Terminal Wisata Tuban, menghabiskan anggaran puluhan miliar.

Tujuannya? Mulia, tentu saja: mengoptimalkan sektor transportasi, mendorong pariwisata, dan menggerakkan ekonomi.

Tapi seperti banyak proyek ambisius lain yang sayangnya gak “dibumi”-kan dulu sebelum diluncurkan, terminal ini malah cenderung jadi proyek sepi penumpang.

Dulu katanya mau dipakai buat pusat transportasi dan wisata, tapi sampai sekarang justru lebih mirip museum terminal ketimbang tempat naik-turun penumpang.

Dari Terminal Lama ke Terminal Baru: Ganti Lokasi, Gak Ganti Nasib

Di atas kertas, pemindahan terminal dari lokasi lama ke lokasi baru ini masuk akal. Wilayah baru lebih luas, jauh dari pusat kota yang macet, dan punya potensi jadi titik temu wisatawan luar kota.

Tapi dalam praktiknya, hal ini justru bikin banyak sopir angkutan umum dan bus antarkota enggan mampir.

Masalah utama? Lokasinya kejauhan. Terminal lama yang berada di tengah kota memang lebih kecil dan agak sempit, tapi setidaknya strategis dan dekat dengan pasar, kos-kosan, dan warga.

Terminal baru? Terlalu ke utara, dan bukan titik favorit warga buat naik angkutan.

Alhasil, muncul deh fenomena yang sekarang bikin pemerintah geleng-geleng: terminal bayangan.

Bekas lokasi Terminal Lama yang harusnya udah “pensiun”, malah jadi terminal ilegal yang ramai aktivitas.

Karena ya gimana, warga dan sopir sama-sama mikir praktis. Kalau bisa lebih dekat dan lebih ramai, kenapa harus jauh-jauh?

Terminal Wisata Tapi Bukan Tujuan Wisata

Nama “Terminal Wisata” terdengar unik. Tapi ya ironis juga, karena sampai sekarang fungsinya buat wisata pun belum kelihatan.

Papan informasi penuh debu, kursi tunggu jarang diisi orang, dan warung-warung di sekitar terminal lebih sering mengelap meja ketimbang melayani pembeli.

Yang menarik, pada 2017, pengelolaan terminal ini diambil alih oleh Pemerintah Pusat lewat Kementerian Perhubungan.

Harapannya, pengelolaan bisa lebih profesional dan fungsi terminal bisa ditingkatkan. Tapi sayangnya, yang berubah baru pengelolanya, belum realitasnya.

Enaknya Digawe Opo Yo?

Karena saking sepinya, banyak warga iseng mulai bertanya: terminal ini enaknya dipakai buat apa ya? Ada yang bilang bisa jadi tempat konser indie, ada juga yang nyeletuk cocok jadi markas komunitas cosplay.

Bahkan ada yang ngusul: bikin jadi taman edukasi transportasi biar anak-anak sekolah bisa main sambil belajar.

Yah, ide boleh lucu-lucu. Tapi ini jadi catatan penting: infrastruktur sebesar itu harusnya bisa dioptimalkan. Jangan sampai jadi bangunan mangkrak yang makan anggaran, tapi gak makan fungsi.

Semoga sih, ada gebrakan baru biar Terminal Wisata Tuban ini gak cuma jadi tempat yang disebut-sebut di laporan tahunan pemerintah, tapi juga benar-benar hidup dan bermanfaat buat masyarakat.

Karena kalau enggak, ya kasihan juga... masa terminal lebih sepi dari warung kopi depan rumah? (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #Terminal Wisata #transportasi #sepi #bangunan