RADARTUBAN – Atalanta bergerak cepat, tegas, dan penuh perhitungan.
Klub Serie A asal Bergamo itu dikabarkan ingin mengunci masa depan Marco Carnesecchi dengan kontrak jangka panjang, sekaligus mematahkan godaan klub-klub besar yang mulai mengintai. Di tengah dinamika itu, Inter memilih menahan diri.
Menurut laporan jurnalis transfer Nicolò Schira, Atalanta telah mengajukan proposal perpanjangan kontrak kepada Carnesecchi hingga 2030, dengan gaji bersih € 2,5 juta per musim ditambah bonus.
Sebuah sinyal kuat: Carnesecchi bukan sekadar aset, melainkan fondasi proyek jangka panjang.
Tawaran Serius, Pesan Tegas dari Atalanta
Bagi Atalanta, langkah ini bukan reaksi panik, melainkan strategi sadar.
Carnesecchi diproyeksikan sebagai penjaga gawang utama bertahun-tahun ke depan.
Dan, klub ingin memastikan stabilitas itu terjaga sebelum bursa musim panas memanas.
Kontrak panjang dengan nilai signifikan menegaskan posisi Atalanta: mereka tidak sedang menjual, kecuali dengan syarat yang sepenuhnya menguntungkan.
Inter Tertarik, Tapi Tak Mau Terjebak Harga
Minat dari Inter Milan memang ada. Carnesecchi masuk radar sebagai opsi masa depan di bawah mistar.
Namun minat itu berhenti di meja evaluasi ketika angka € 45 juta muncul sebagai harga yang diminta Atalanta—angka yang juga disebut-sebut berlaku untuk Juventus.
Bagi Inter, banderol tersebut terlalu tinggi. Klub tak ingin mengorbankan keseimbangan finansial hanya untuk satu posisi, terlebih di tengah kebutuhan memperkuat sektor lain.
Carnesecchi di Persimpangan Karier
Di satu sisi, Carnesecchi mendapatkan kepercayaan penuh dari Atalanta, baik secara teknis maupun finansial.
Di sisi lain, minat klub besar selalu menggoda. Namun dengan tawaran kontrak hingga 2030, Atalanta memberi pesan jelas: masa depan sang kiper ada di Bergamo—setidaknya untuk sekarang.
Atalanta memainkan kartu mereka dengan rapi. Kontrak panjang, gaji kompetitif, dan harga jual tinggi adalah tiga lapis perlindungan. Inter memilih realistis, tak mau terseret perang harga.
Dalam cerita ini, Carnesecchi bukan sekadar objek transfer—ia adalah simbol bagaimana klub menengah kini berani berkata “tidak” kepada raksasa, tanpa rasa gentar. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni