RADARTUBAN - Anfield kembali bergolak, bukan oleh sorak gol, melainkan oleh kegelisahan di balik mistar.
Kiper pilihan kedua Liverpool, Giorgi Mamardashvili, dikabarkan serius mempertimbangkan untuk meminta hengkang dengan status pinjaman pada bursa musim panas mendatang.
Laporan TEAMtalk menyebutkan, penjaga gawang bertubuh raksasa asal Georgia itu mulai kehabisan kesabaran menjalani peran sebagai pelapis.
Hari-harinya di Liverpool lebih sering dihabiskan menunggu kesempatan yang tak kunjung datang.
Baca Juga: Liverpool Bidik Bastoni Sebagai Target Utama, Inter Menutup Pintu, Barcelona Mengintai Peluang
Hidup di Bawah Bayang-Bayang Alisson
Masalahnya sederhana tapi pahit. Di depannya berdiri Alisson Becker, salah satu kiper terbaik dunia, yang hampir tak tergoyahkan.
Selama Alisson sehat, peluang Mamardashvili tampil praktis sebatas laga-laga tertentu.
Situasi ini pelan tapi pasti menggerus mental. Seorang kiper hidup dari ritme dan kepercayaan diri—dua hal yang sulit dirawat bila hanya jadi penonton dari bangku cadangan.
Inter Pernah Mengetuk Pintu
Menariknya, Mamardashvili bukan nama asing bagi klub-klub elite Eropa. Raksasa Serie A, Inter Milan disebut pernah memantau serius sang kiper saat mereka mencari pengganti Andre Onana di masa lalu.
Minat itu menegaskan satu hal: kualitas Mamardashvili tak perlu diragukan. Yang ia butuhkan hanyalah panggung—dan menit bermain reguler.
Opsi Pinjaman, Jalan Tengah yang Masuk Akal
Bagi Liverpool, skema pinjaman bisa menjadi solusi paling logis. Klub tak kehilangan aset, sang pemain mendapat waktu bermain, dan nilai pasar tetap terjaga.
Bagi Mamardashvili sendiri, pinjaman adalah kesempatan untuk kembali merasakan tekanan pertandingan yang sesungguhnya.
Jika tak ada perubahan signifikan dalam hierarki kiper, keputusan ini terasa makin realistis. Musim panas bisa menjadi momen penentuan.
Baca Juga: Dayot Upamecano Perpanjang Kontrak di Bayer Munchen, Liverpool dan Real Madrid Gigit Jari
Antara Ambisi dan Realita
Di usia emas seorang kiper, duduk terlalu lama di bangku cadangan adalah risiko.
Mamardashvili berada di persimpangan: bertahan demi status di klub besar, atau melangkah pergi sementara demi karier yang terus bergerak.
Liverpool memahami dilema itu. Namun selama Alisson masih menjadi tembok utama di Anfield, bayang-bayang tersebut akan selalu ada.
Dan bagi Mamardashvili, bayang-bayang itu kini terasa terlalu gelap untuk ditoleransi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni